Makalah Teori Organisasi Struktural Modern Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Lingkungan




Makalah Teori Organisasi Struktural Modern Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Lingkungan 

Trian Hermawan

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

 

ABSTRAK

Makalah ini membahas relevansi dan implementasi teori organisasi struktural modern dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan. Berangkat dari tantangan modernitas, krisis ekologi, dan tuntutan tata kelola kelembagaan yang akuntabel, kajian ini menelaah bagaimana prinsip rasionalitas struktural, sistem terbuka, adaptabilitas, dan budaya organisasi dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam seperti tauhid, amanah, syura, dan tanggung jawab ekologis. Menggunakan pendekatan kajian pustaka teoretis dan ilustrasi empiris dari praktik lembaga pendidikan Islam (pesantren, madrasah, dan sekolah Islam modern), makalah ini menunjukkan bahwa organisasi pendidikan Islam mampu bertransformasi menjadi institusi yang efisien sekaligus spiritual-ekologis. Hasil analisis menegaskan bahwa model eco-Islamic education institution—melalui desain struktur adaptif, manajemen berbasis nilai, kepemimpinan partisipatif-spiritual, serta mekanisme evaluasi berkelanjutan—mendorong terciptanya tata kelola yang profesional, transparan, dan berpihak pada keberlanjutan. Integrasi teori struktural modern dengan etika lingkungan Islam tidak sekadar menghadirkan inovasi administratif, tetapi juga membangun paradigma pendidikan holistik yang menyinergikan dimensi akademik, moral, dan ekologis. Dengan demikian, teori organisasi struktural modern menawarkan fondasi strategis bagi penguatan lembaga pendidikan Islam dalam menjawab tantangan globalisasi dan krisis lingkungan, sekaligus mewujudkan misi rahmatan lil ‘alamin.

Kata kunci: Teori organisasi struktural modern; lembaga pendidikan Islam; eco-Islamic education; manajemen Pendidikan,budaya organisasi Islami; kepemimpinan spiritual; keberlanjutan lingkungan;


BAB I PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dalam dinamika perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia, isu tentang efektivitas struktur organisasi dan keselarasan antara nilai keislaman dengan tantangan modernitas menjadi topik yang semakin relevan. Perubahan sosial, kemajuan teknologi, serta krisis lingkungan global telah menuntut lembaga pendidikan untuk bertransformasi secara sistemik agar tetap eksis dan berdaya saing. Pendidikan Islam tidak lagi cukup berfokus pada aspek teologis semata, tetapi juga harus mengembangkan dimensi ekologis dan sosial yang sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin — rahmat bagi seluruh alam semesta [1].

Teori organisasi struktural modern menawarkan kerangka konseptual yang memandang organisasi sebagai sistem sosial yang rasional, adaptif, dan terbuka terhadap perubahan lingkungan eksternal [2]. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, teori ini relevan karena dapat memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah lembaga mengelola struktur, sumber daya, dan budaya organisasinya agar mampu merespons tantangan modern tanpa kehilangan akar nilai-nilai spiritual Islam.

Modernitas, di satu sisi, membawa peluang bagi lembaga pendidikan Islam untuk memperkuat tata kelola, efisiensi, serta transparansi; namun di sisi lain, juga menghadirkan risiko terpinggirkannya nilai-nilai moral dan spiritual dalam pengambilan keputusan [3]. Di sinilah pentingnya pendekatan struktural modern yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam dan berorientasi pada kelestarian lingkungan. Konsep eco-Islamic education institution kemudian muncul sebagai inovasi kelembagaan yang mengintegrasikan aspek manajemen modern dengan nilai tauhid, amanah, dan tanggung jawab terhadap lingkungan [4].

Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam penerapan teori organisasi struktural modern berbasis lingkungan. Sebagai contoh, beberapa pesantren di Jawa Barat dan Jawa Timur telah mengembangkan model eco-pesantren yang menekankan pentingnya pengelolaan energi terbarukan, sanitasi ramah lingkungan, dan kurikulum berbasis ekoteologi Islam [5]. Model tersebut menggambarkan bahwa struktur organisasi pendidikan Islam yang modern tidak hanya bertujuan pada efisiensi administrasi, tetapi juga pada penciptaan tata nilai baru yang berpihak pada keberlanjutan hidup.

Dengan demikian, pembahasan mengenai teori organisasi struktural modern dalam konteks lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan menjadi penting untuk dikaji. Pendekatan ini tidak hanya menelaah sisi teoritis manajemen organisasi, tetapi juga memperluas maknanya ke arah spiritualitas ekologis dan etika kepemimpinan Islam yang berwawasan lingkungan.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengertian dan prinsip dasar teori organisasi struktural modern?
  2. Bagaimana penerapan teori organisasi struktural modern dalam konteks lembaga pendidikan Islam?
  3. Bagaimana konsep lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan dapat diintegrasikan dengan teori organisasi struktural modern?

C.  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:

  1. Menjelaskan hakikat dan prinsip-prinsip teori organisasi struktural modern.
  2. Menganalisis penerapan teori organisasi struktural modern dalam tata kelola lembaga pendidikan Islam.
  3. Mengkaji relevansi antara teori organisasi struktural modern dengan pengembangan lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan.

 

BAB II PEMBAHASAN

A.  Konsep Dasar Teori Organisasi Struktural Modern

Teori organisasi struktural modern merupakan hasil evolusi panjang dari pemikiran tentang bagaimana organisasi seharusnya disusun, dikelola, dan dijalankan untuk mencapai tujuan secara efektif. Dalam pandangan klasik, organisasi dipahami sebagai sistem mekanistik yang menekankan hierarki, pembagian kerja, dan kontrol yang ketat sebagaimana dikemukakan oleh Max Weber dan Frederick W. Taylor [6]. Namun, seiring dengan perkembangan masyarakat dan kompleksitas lingkungan eksternal, paradigma organisasi mulai bergeser dari sistem tertutup menuju sistem terbuka, yang mengakui adanya hubungan dinamis antara organisasi dan lingkungannya [7].

Dalam konteks ini, teori organisasi struktural modern menekankan bahwa organisasi bukan sekadar kumpulan individu yang bekerja berdasarkan aturan formal, melainkan sistem adaptif yang memiliki kemampuan untuk belajar, berinovasi, dan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Menurut Richard L. Daft, organisasi modern memiliki empat karakteristik utama, yaitu: rasionalitas struktural, fleksibilitas, orientasi tujuan jangka panjang, serta interdependensi antarbagian [8]. Keempat karakteristik ini menjadi fondasi dalam memahami bagaimana organisasi modern dikelola secara efisien tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan ekologis.

1.      Tokoh Teori Organisasi Stuktural Modern dan Pemikirannya

Tom Burns dan Stalker: Peraturan formal, komunikasi vertikal, dan struktur pengambilan keputusan sangat menentukan penerapan sistem mekanistik dan organistik dalam suatu organisasi. Rasionalitas perilaku organisasi dapat dicapai dengan baik melalui otoritas formal yang jelas.

Amitai Etzioni: Tiga hal yang sangat berpengaruh dalam suatu organisasi adalah kepatuhan, tujuan, dan efektivitas. Ketiganya memiliki pola hubungan yang saling bergantung satu sama lain. Peter Blau dan

Richard Scott: Hubungan dalam organisasi ada dua yaitu formal dan informal. Hubungan informal bersumber dari struktur organisasi formal dan sangat membantu organisasi formal dalam menetapkan norma dan aturan bekerja.

Arthur Walker dan Jay Lorsch: Pengaturan struktur organisasi yang memadai sangat bergantung pada lingkungan organisasi dan sifat-sifat organisasi itu sendiri.

2.      Evolusi dan Paradigma Dasar

Teori organisasi struktural modern berakar dari pemikiran klasik, tetapi berkembang ke arah sistem yang lebih kompleks. Pada era klasik, Weber mengemukakan konsep birokrasi yang ideal sebagai bentuk organisasi yang paling rasional karena berlandaskan aturan formal, spesialisasi kerja, dan hirarki otoritas yang jelas [9]. Akan tetapi, model birokrasi ini kemudian dikritik karena dianggap terlalu kaku dan tidak responsif terhadap perubahan lingkungan. Dari sinilah muncul teori organisasi modern yang berupaya menyeimbangkan antara struktur formal dan kebutuhan akan fleksibilitas.

Pendekatan modern memperkenalkan pandangan bahwa organisasi adalah sistem terbuka (open system), sebagaimana dijelaskan oleh Katz dan Kahn (1978), yang memandang organisasi sebagai subsistem dalam masyarakat yang lebih luas [10]. Artinya, organisasi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, politik, dan ekologis tempat ia berada. Dengan demikian, efektivitas organisasi tidak hanya diukur dari efisiensi internal, tetapi juga dari kemampuannya beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan eksternal.

Dalam kerangka ini, teori organisasi struktural modern tidak sekadar berbicara tentang bentuk struktur, tetapi juga mencakup aspek perilaku organisasi, budaya kerja, komunikasi, hingga nilai-nilai yang membentuk identitas lembaga. Scott dan Davis (2016) menyebut bahwa organisasi modern bersifat rational-natural-open system, yang berarti menggabungkan rasionalitas formal (aturan dan tujuan), sifat alami manusia (kebutuhan sosial dan nilai), serta keterbukaan terhadap lingkungan [11].

3.      Ciri dan Prinsip Utama

Teori organisasi struktural modern memiliki sejumlah prinsip utama yang membedakannya dari teori klasik maupun neoklasik. Adapun prinsip-prinsip tersebut meliputi:

1.      Rasionalitas dan Efisiensi Struktural: Organisasi modern berusaha mencapai tujuan melalui struktur yang rasional dan efisien. Pembagian kerja dilakukan berdasarkan kompetensi, bukan sekadar hierarki jabatan. Struktur ini mendorong adanya koordinasi antarunit agar tercipta keselarasan antara visi organisasi dan pelaksanaan operasionalnya [12].

2.      Keterbukaan terhadap Lingkungan (Open System Thinking): Setiap organisasi modern dipandang sebagai sistem yang berinteraksi dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik ini mencakup masukan (input), proses transformasi, dan keluaran (output). Organisasi yang tertutup terhadap perubahan lingkungan akan kehilangan relevansi dan daya saing [13].

3.      Adaptabilitas dan Inovasi: Dalam teori struktural modern, kemampuan organisasi untuk beradaptasi menjadi faktor kunci keberlangsungan. Adaptasi tidak hanya bersifat reaktif terhadap perubahan eksternal, tetapi juga proaktif dalam menciptakan inovasi dan pengembangan strategi baru.

4.      Integrasi Nilai dan Budaya Organisasi: Meskipun bersifat rasional, teori ini mengakui pentingnya nilai-nilai budaya dan etika dalam membentuk identitas organisasi. Nilai menjadi kekuatan yang mengikat dan mengarahkan perilaku kolektif agar selaras dengan visi organisasi [14].

5.      Pendekatan Multidisipliner: Pendekatan modern menekankan bahwa organisasi tidak dapat dipahami hanya dari satu perspektif ilmu. Kajian organisasi modern menggabungkan disiplin manajemen, psikologi, sosiologi, antropologi, dan bahkan ekologi, untuk memahami kompleksitas sistem sosial di dalam organisasi[15].

4.      Aplikasi dalam Bidang Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, teori organisasi struktural modern memiliki relevansi yang tinggi karena lembaga pendidikan merupakan sistem sosial kompleks yang terdiri atas manusia, teknologi, nilai, dan tujuan. Pendidikan Islam, misalnya, beroperasi dalam konteks sosial dan budaya yang sarat nilai spiritual. Oleh karena itu, pendekatan struktural modern dapat membantu lembaga pendidikan Islam menata sistemnya secara rasional tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman.

Menurut Owens dan Valesky (2020), organisasi pendidikan modern perlu menerapkan prinsip efisiensi struktural melalui pembagian fungsi yang jelas antara manajemen, kurikulum, dan sumber daya manusia[16]. Namun, pada saat yang sama, lembaga pendidikan harus mempertahankan fleksibilitas agar mampu menanggapi perubahan sosial dan teknologi dengan cepat. Dalam konteks Islam, fleksibilitas ini tidak hanya berarti adaptasi terhadap teknologi, tetapi juga kemampuan menafsirkan nilai-nilai keislaman secara kontekstual terhadap tantangan zaman.

Sebagai contoh, penerapan teori ini di lembaga pendidikan Islam dapat terlihat pada sistem manajemen pesantren modern yang menerapkan pembagian kerja fungsional (administrasi, pendidikan, dan dakwah), tetapi tetap mempertahankan struktur nilai yang berlandaskan pada ukhuwah Islamiyah dan amanah dalam setiap lini kepemimpinan[17].

5.      Relevansi dengan Tantangan Ekologis dan Sosial

Salah satu aspek penting dalam teori organisasi modern adalah kesadarannya terhadap lingkungan eksternal yang terus berubah. Dalam konteks global saat ini, salah satu perubahan yang paling mendasar adalah krisis ekologi. Organisasi modern tidak lagi dapat memisahkan dirinya dari tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, muncul paradigma baru dalam teori organisasi yaitu environmental-based organization, yang memandang keberlanjutan lingkungan sebagai bagian integral dari strategi kelembagaan[18].

Lembaga pendidikan Islam, dengan landasan teologis yang kuat pada konsep khalifah fil ard (manusia sebagai pemelihara bumi), memiliki posisi strategis untuk menerapkan teori ini. Prinsip tanggung jawab ekologis dapat diinternalisasi dalam struktur organisasi, misalnya dengan membentuk unit khusus yang menangani program lingkungan, efisiensi energi, atau pendidikan hijau. Integrasi nilai Islam dengan teori organisasi modern menjadikan lembaga pendidikan tidak hanya rasional secara struktural, tetapi juga moral secara spiritual dan ekologis.

Dengan demikian, teori organisasi struktural modern menyediakan landasan teoritis bagi lembaga pendidikan Islam untuk membangun struktur yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan. Ia menjadi jembatan antara tuntutan efisiensi manajerial dan kewajiban moral Islam terhadap pelestarian lingkungan.

B.  Penerapan Teori Organisasi Struktural Modern dalam Lembaga Pendidikan Islam

Teori organisasi struktural modern memberikan kerangka berpikir yang sangat relevan bagi pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam (LPI), terutama dalam konteks peningkatan efektivitas kelembagaan dan adaptasi terhadap dinamika sosial-lingkungan. Paradigma ini menekankan pada pentingnya struktur formal, pembagian kerja, hierarki, serta koordinasi sistemik yang memungkinkan lembaga pendidikan beroperasi secara efisien tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan moral Islam. Dalam penerapannya, teori ini membantu lembaga pendidikan Islam membangun sistem manajemen yang rasional, efisien, dan akuntabel, sekaligus tetap menjaga identitas religiusnya sebagai lembaga yang berorientasi pada pembentukan insan kamil (manusia paripurna).

Menurut Daft (2021), teori organisasi struktural modern memandang organisasi sebagai sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks LPI, ini berarti setiap komponen lembaga—mulai dari pimpinan, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik—memiliki peran yang jelas dalam struktur yang terkoordinasi dengan baik.[19] Struktur formal yang terdefinisi membantu menghindari tumpang tindih fungsi dan memudahkan proses pengambilan keputusan berbasis musyawarah dan nilai keadilan.

Lebih lanjut, Mintzberg (2018) mengemukakan bahwa struktur organisasi modern idealnya bersifat dinamis dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan eksternal.[20] Lembaga pendidikan Islam, misalnya madrasah, pesantren, dan sekolah berbasis Islam modern, kini menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi pendidikan, dan tuntutan profesionalisme guru. Untuk itu, penerapan teori organisasi struktural modern menuntut adanya reformasi tata kelola yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam sistem organisasi berbasis efisiensi dan akuntabilitas modern.

1.      Dimensi Struktural dan Fungsional dalam Lembaga Pendidikan Islam

Secara struktural, penerapan teori ini tampak pada bagaimana lembaga pendidikan Islam menyusun hierarki otoritas dan pembagian kerja (division of labor). Sebagai contoh, dalam sebuah madrasah aliyah modern, struktur organisasi umumnya terdiri atas kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, dan humas, diikuti oleh unit-unit pendukung seperti tata usaha, guru, serta komite sekolah. Struktur ini menggambarkan prinsip rasionalitas Weberian yang menekankan pentingnya spesialisasi tugas dan sistem otoritas legal-rasional.[21]

Dalam praktiknya, pembagian kerja ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berdimensi spiritual, karena setiap fungsi diarahkan pada tujuan pendidikan Islam, yakni pembentukan akhlak mulia dan keunggulan ilmu. Contohnya, guru Pendidikan Agama Islam tidak sekadar menyampaikan pengetahuan kognitif, melainkan juga menjadi role model dalam perilaku etis di lingkungan sekolah. Prinsip unity of command (kesatuan komando) tetap dijaga agar koordinasi berjalan efektif tanpa mengabaikan nilai musyawarah sebagai wujud partisipasi kolektif.

Di sisi lain, fungsi koordinasi juga dioptimalkan melalui penerapan sistem rapat rutin, supervisi akademik, dan evaluasi berbasis indikator kinerja. Sebagai contoh empiris, Pondok Pesantren Daar El-Qolam di Banten menerapkan sistem manajemen mutu berbasis Total Quality Management (TQM) yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Dalam model tersebut, setiap elemen organisasi terlibat aktif dalam siklus planning–doing–checking–acting (PDCA), tetapi seluruh kebijakan tetap diarahkan untuk menjaga visi pendidikan Islam yang berorientasi pada iman dan amal salih.[22]

2.      Adaptasi terhadap Lingkungan dan Dinamika Sosial

Salah satu ciri teori organisasi struktural modern adalah kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, adaptasi ini mencakup kemampuan menghadapi perubahan sosial, politik, dan teknologi tanpa kehilangan identitas religius. Katz dan Kahn (2020) menjelaskan bahwa organisasi pendidikan merupakan sistem terbuka (open system) yang memerlukan interaksi dengan lingkungan eksternal agar tetap relevan dan berkelanjutan.[23]

Contoh penerapannya dapat dilihat pada Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Falah Surabaya, yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum keislaman berbasis lingkungan (eco-Islamic education). Dalam praktiknya, sekolah tersebut membangun budaya organisasi yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan (sustainability), seperti program daur ulang, pengelolaan sampah berbasis syariah, dan pembelajaran ekoteologi.[24] Pendekatan ini merupakan wujud konkret dari teori struktural modern yang menekankan fit antara struktur organisasi dan lingkungan.

Lebih jauh, penerapan sistem informasi manajemen sekolah (SIMS) yang terintegrasi juga menjadi contoh penerapan prinsip modernisasi struktural. Penggunaan teknologi untuk pengarsipan nilai, pelaporan keuangan, hingga pengawasan mutu menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam tidak lagi hanya berfokus pada spiritualitas, tetapi juga efisiensi operasional. Menurut Robbins dan Judge (2019), organisasi yang efisien adalah organisasi yang mampu mengelola sumber daya secara rasional dengan dukungan teknologi dan sistem kontrol yang baik.[25] Dengan demikian, transformasi digital dalam lembaga pendidikan Islam bukanlah sekularisasi, melainkan optimalisasi sarana dakwah dan pendidikan berbasis data.

3.      Integrasi Nilai Islam dalam Struktur Organisasi Modern

Salah satu tantangan utama dalam menerapkan teori organisasi modern pada lembaga pendidikan Islam adalah sinkronisasi antara rasionalitas struktural dan nilai spiritual Islam. Rasionalitas organisasi modern sering dikritik karena terlalu menekankan efisiensi teknis, sedangkan pendidikan Islam berlandaskan pada nilai-nilai etik, moral, dan tauhid. Namun, integrasi antara keduanya dapat diwujudkan melalui konsep Islamic Organizational Culture (budaya organisasi Islami).

Menurut Hassan dan Nor (2020), budaya organisasi Islami mencerminkan kesadaran bahwa setiap aktivitas organisasi merupakan ibadah, dan setiap anggota organisasi memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah.[26] Dengan demikian, penerapan teori organisasi struktural modern tidak berarti sekularisasi lembaga Islam, tetapi justru penguatan tata kelola yang transparan, terukur, dan sesuai dengan prinsip keadilan. Misalnya, mekanisme evaluasi guru dapat dikaitkan dengan konsep muhasabah (introspeksi diri), sementara perencanaan strategis sekolah dapat didasarkan pada prinsip syura (musyawarah) dan amanah (tanggung jawab).

Empirinya tampak pada praktik SMA Islam Al-Azhar 14 Semarang, di mana sistem organisasi berbasis hasil kerja (performance-based system) diterapkan bersamaan dengan pembinaan spiritual berkala bagi guru dan staf. Dengan demikian, teori organisasi modern dapat menjadi alat untuk memperkuat kualitas lembaga tanpa menghilangkan dimensi keislamannya.

4.      Tantangan dan Strategi Implementasi

Meskipun penerapan teori organisasi struktural modern membawa banyak manfaat, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Pertama, adanya resistensi budaya terhadap modernisasi sistem manajerial di lingkungan lembaga Islam tradisional. Banyak pesantren atau madrasah yang masih mengandalkan pola kepemimpinan karismatik berbasis figur kiai. Kedua, keterbatasan sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi informasi dan manajemen profesional.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pendekatan gradual dan kontekstual, sebagaimana disarankan oleh Handoko (2022), yakni reformasi struktural harus dimulai dari pembenahan sistem administrasi dan penguatan kompetensi sumber daya manusia.[27] Strategi pelatihan manajemen Islami, digitalisasi lembaga, serta penguatan nilai-nilai spiritual dalam praktik manajerial dapat menjadi jalan tengah yang seimbang antara modernitas dan religiusitas.

Dengan demikian, penerapan teori organisasi struktural modern dalam lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan tidak hanya memperkuat efektivitas struktural, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan, adaptif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

C.  Integrasi Nilai Lingkungan dalam Struktur dan Budaya Lembaga Pendidikan Islam Modern

Integrasi nilai-nilai lingkungan ke dalam struktur dan budaya organisasi lembaga pendidikan Islam modern merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan (sustainable education) dan selaras dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu agama dan akhlak, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial-ekologis yang menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Menurut Fien dan Tilbury (2020), pendidikan yang berorientasi lingkungan harus menekankan tiga dimensi utama, yaitu: pengetahuan ekologis, etika lingkungan, dan tindakan keberlanjutan.[28] Ketiga aspek ini dapat diinternalisasikan dalam sistem struktural dan budaya organisasi lembaga pendidikan Islam melalui mekanisme kelembagaan, kurikulum, dan tata kelola berbasis nilai-nilai Islami. Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah fi al-ardh (pemelihara bumi), sehingga tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan menjadi bagian integral dari ibadah dan etika sosial.

1.      Dasar Teologis Integrasi Nilai Lingkungan dalam Pendidikan Islam

Konsep pelestarian lingkungan dalam Islam berakar dari ajaran Al-Qur’an dan hadis yang menegaskan tanggung jawab manusia terhadap alam. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf (7):56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” Ayat ini mengandung nilai moral ekologis bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ketaatan kepada Tuhan.[29]

Dari perspektif kelembagaan, nilai ini menjadi dasar filosofis bagi struktur organisasi lembaga pendidikan Islam modern. Setiap unit kerja—baik akademik, administrasi, maupun pengembangan sarana—harus menginternalisasikan nilai tanggung jawab ekologis dalam kebijakan dan prosedur operasionalnya. Misalnya, lembaga dapat membentuk unit atau divisi adiwiyata Islami, yang berfungsi mengelola program ramah lingkungan berbasis nilai keislaman.

Sebagaimana dikemukakan oleh Nasr (2019), krisis lingkungan global merupakan akibat dari hilangnya kesadaran spiritual manusia terhadap kesucian alam sebagai ciptaan Tuhan.[30] Oleh karena itu, pembentukan struktur organisasi yang memasukkan nilai-nilai lingkungan bukan sekadar adaptasi terhadap tren global eco-education, tetapi juga bentuk aktualisasi spiritualitas Islam dalam konteks modernitas.

2.      Struktur Organisasi Berbasis Lingkungan dalam Lembaga Pendidikan Islam

Integrasi nilai lingkungan dalam struktur organisasi lembaga pendidikan Islam modern mencakup reorientasi kelembagaan agar setiap bagian memiliki peran dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Prinsip efisiensi, rasionalitas, dan hierarki dalam teori organisasi struktural modern dapat disinergikan dengan prinsip amanah, khalifah, dan ihsan dalam Islam untuk membentuk struktur organisasi yang ekologis dan spiritual.

Sebagai contoh, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Sleman telah mengembangkan sistem tata kelola berbasis lingkungan melalui program Green School Management. Struktur organisasi sekolah dimodifikasi dengan menambahkan Koordinator Adiwiyata yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Madrasah.[31] Posisi ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga simbolis—mewakili komitmen lembaga terhadap prinsip keberlanjutan.

Setiap unit organisasi juga diberi peran dalam mendukung agenda ekologis, seperti:

a.       Bagian Kurikulum, yang memastikan materi pelajaran memasukkan nilai etika lingkungan berbasis Al-Qur’an.

b.       Bagian Sarana dan Prasarana, yang bertanggung jawab atas pengelolaan energi dan limbah sekolah.

c.       Bagian Kesiswaan, yang membina kegiatan ekstrakurikuler seperti eco-santri club atau bank sampah pesantren.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip teori organisasi modern yang menekankan pada koordinasi lintas fungsi dan sistem terbuka, di mana seluruh bagian organisasi bekerja secara sinergis menghadapi tantangan lingkungan eksternal.[32]

3.      Budaya Organisasi Islami yang Berwawasan Lingkungan

Budaya organisasi merupakan sistem nilai, keyakinan, dan norma yang membentuk perilaku anggota lembaga. Dalam lembaga pendidikan Islam, budaya organisasi yang berwawasan lingkungan dapat dibangun melalui internalisasi nilai-nilai Islam ekologis seperti tawazun (keseimbangan), qana’ah (kesederhanaan), dan mas’uliyyah (tanggung jawab).

Menurut Hafidhuddin dan Tanjung (2021), penerapan budaya lingkungan Islami harus dimulai dari pimpinan lembaga sebagai teladan dalam penghematan energi, pengelolaan sampah, serta penggunaan sumber daya yang berkeadilan.[33] Keteladanan pimpinan dalam menjaga kebersihan dan mengelola fasilitas secara efisien menciptakan organizational climate yang mendukung perilaku ramah lingkungan di kalangan guru dan peserta didik.

Empirinya terlihat pada Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, yang mengembangkan budaya “Pesantren Hijau” dengan prinsip green economy dan eco-pesantren. Setiap santri diajarkan untuk menanam pohon, mengelola sampah organik, dan menghemat air sebagai bagian dari praktik ibadah. Program ini tidak hanya membentuk kebiasaan ekologis, tetapi juga memperkuat nilai spiritual bahwa menjaga alam adalah bentuk amal jariyah.[34]

Budaya semacam ini memperkuat konsep learning organization, di mana lembaga terus belajar dan beradaptasi terhadap isu lingkungan global sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

4.      Kurikulum dan Pembelajaran Berbasis Lingkungan Islami

Selain struktur dan budaya, kurikulum juga berperan penting dalam integrasi nilai lingkungan. Pendidikan Islam modern dapat mengembangkan kurikulum integratif, yang memadukan antara ilmu agama, sains, dan kesadaran ekologis. Sebagai contoh, pembelajaran tafsir tematik dapat dikaitkan dengan ayat-ayat kauniyah yang menjelaskan tentang ciptaan alam, air, dan tumbuhan, sehingga peserta didik memahami keterkaitan antara iman dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Menurut UNESCO (2021), pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) harus diadaptasi ke dalam konteks lokal, termasuk melalui pendekatan keagamaan yang relevan.[35] Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam dapat berperan sebagai model institution dalam pengembangan pendidikan lingkungan yang berakar pada nilai keislaman.

Salah satu praktik baik dapat ditemukan pada Sekolah Alam Insan Mandiri Depok, yang menggabungkan metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan prinsip tauhid. Setiap proyek lingkungan, seperti pembuatan taman herbal atau sistem irigasi sederhana, dikaitkan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis.[36] Integrasi semacam ini menciptakan sinergi antara cognitive learning (pengetahuan), affective learning (nilai), dan psychomotor learning (aksi nyata).

5.      Tantangan dan Prospek Integrasi Nilai Lingkungan dalam Lembaga Pendidikan Islam Modern

Meski konsep integrasi lingkungan dan Islam memiliki potensi besar, penerapannya masih menghadapi beberapa tantangan. Pertama, lemahnya kesadaran ekologis di kalangan pendidik dan pengelola lembaga. Kedua, keterbatasan sarana dan dukungan kebijakan dari pemerintah dalam mendukung program green education di sekolah Islam. Ketiga, masih minimnya kajian keislaman yang mengembangkan paradigma ekoteologis secara sistematis dalam kurikulum pendidikan.

Namun demikian, peluang pengembangannya cukup besar. Perubahan paradigma pendidikan global yang mengedepankan sustainability membuka ruang bagi lembaga pendidikan Islam untuk menjadi pionir dalam mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dan ekologi. Dengan mengadaptasi teori organisasi struktural modern—yang menekankan efisiensi, adaptabilitas, dan sistem terbuka—LPI dapat membangun tata kelola yang tidak hanya modern dan rasional, tetapi juga berjiwa spiritual dan berwawasan ekologis.

Sebagaimana ditegaskan oleh Abdullah (2022), keberhasilan lembaga pendidikan Islam di masa depan bergantung pada kemampuannya menyeimbangkan rasionalitas manajerial dengan kesadaran ekologis yang bersumber dari spiritualitas Islam.[37] Maka, integrasi nilai lingkungan dalam struktur dan budaya organisasi lembaga pendidikan Islam bukan sekadar inovasi administratif, melainkan transformasi paradigmatik menuju pendidikan Islam yang holistik, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh makhluk.

D.  Model Implementasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Lingkungan dalam Perspektif Teori Struktural Modern

Model implementasi lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan dalam kerangka teori organisasi struktural modern merupakan upaya untuk menggabungkan pendekatan manajerial rasional dengan nilai-nilai spiritual dan ekologis. Teori organisasi struktural modern menekankan pada efisiensi, hierarki fungsional, koordinasi sistemik, serta adaptasi terhadap lingkungan eksternal.[38] Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, teori ini tidak hanya dimaknai secara teknokratis, tetapi juga secara normatif—yakni sebagai mekanisme kelembagaan yang berlandaskan nilai amanah, syura’ (musyawarah), dan maslahah (kemaslahatan umum).

Model implementasi tersebut dapat diuraikan ke dalam beberapa komponen utama: (1) desain struktural organisasi yang adaptif, (2) sistem manajemen berbasis nilai Islam dan lingkungan, (3) kepemimpinan partisipatif dan spiritual, serta (4) mekanisme pengendalian dan evaluasi berbasis keberlanjutan. Keempat komponen ini membentuk sebuah model kelembagaan yang mampu merespons tantangan modernitas sekaligus menjaga kelestarian nilai-nilai keislaman dan lingkungan hidup.

1.      Desain Struktural Organisasi yang Adaptif dan Berkelanjutan

Dalam perspektif teori struktural modern, struktur organisasi yang baik harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan dan kebutuhan stakeholder.[39] Mintzberg (2018) menjelaskan bahwa organisasi yang efektif adalah organisasi yang memiliki fit antara desain struktural dan tuntutan lingkungan.[40] Dalam konteks lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan, desain struktural harus memungkinkan integrasi antara fungsi-fungsi akademik, sosial, dan ekologis secara sistematis.

Sebagai contoh, Pesantren Modern Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, mengembangkan model organisasi yang memasukkan unit agroedukasi sebagai bagian dari struktur formal pesantren.[41] Unit ini bertanggung jawab atas pembelajaran pertanian berkelanjutan, pengolahan hasil panen, serta pendidikan ekonomi berbasis syariah bagi santri. Secara struktural, unit tersebut berada di bawah koordinasi Wakil Pimpinan Bidang Kemandirian, yang berkolaborasi dengan guru sains dan ekonomi Islam. Dengan cara ini, struktur organisasi tidak hanya mengatur pembagian tugas administratif, tetapi juga menghubungkan pendidikan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan.

Model ini sejalan dengan prinsip “integrated structural design”, di mana setiap fungsi organisasi berkontribusi terhadap tujuan ekologis dan spiritual lembaga. Pendekatan ini menegaskan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya diukur dari efisiensi operasional, tetapi juga dari kontribusinya terhadap keseimbangan sosial dan lingkungan.

2.      Sistem Manajemen Berbasis Nilai Islam dan Lingkungan

Teori organisasi struktural modern memandang manajemen sebagai mekanisme koordinasi yang bertujuan mencapai efisiensi. Namun, dalam konteks lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan, efisiensi harus disertai dengan dimensi nilai dan etika. Sistem manajemen yang dikembangkan perlu berbasis pada nilai-nilai Islam ekologis seperti ihsan, amanah, adl (keadilan), dan tawazun (keseimbangan).

Sebagai contoh, Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri Depok mengimplementasikan manajemen lingkungan dengan pendekatan eco-Islamic management, di mana setiap kebijakan sekolah harus mempertimbangkan dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial.[42] Sistem pengelolaan energi, penggunaan kertas, dan pengelolaan air diatur dalam Standard Operating Procedure (SOP) berbasis syariah, termasuk kewajiban menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim).

Penerapan manajemen semacam ini mencerminkan prinsip “green bureaucracy” dalam teori organisasi modern, di mana lembaga mengintegrasikan standar administratif rasional dengan tujuan keberlanjutan lingkungan.[43] Dengan demikian, sistem manajemen Islam modern tidak hanya mengatur proses kerja secara efisien, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter ekologis.

3.      Kepemimpinan Partisipatif dan Spiritual (Spiritual-Structural Leadership)

Aspek kepemimpinan merupakan elemen sentral dalam teori organisasi modern. Daft (2021) menegaskan bahwa pemimpin yang efektif tidak hanya mengatur struktur dan sumber daya, tetapi juga mampu membangun komitmen moral dan budaya organisasi.[44] Dalam lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan, model kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan partisipatif-spiritual, yakni perpaduan antara gaya kepemimpinan demokratis, transformasional, dan berbasis nilai-nilai keislaman.

Pemimpin lembaga pendidikan Islam perlu menjalankan fungsi ganda: sebagai manager (pengelola sistem) dan murabbi (pembimbing moral dan spiritual). Dalam praktiknya, kepemimpinan spiritual ini memfasilitasi partisipasi aktif seluruh anggota organisasi dalam menjaga lingkungan, mengembangkan inovasi pembelajaran hijau, serta mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Contoh penerapan model ini dapat dilihat pada Madrasah Aliyah Amanatul Ummah Mojokerto, yang dipimpin oleh figur kiai sekaligus manajer profesional.[45] Kepala madrasah melibatkan guru dan santri dalam pengambilan keputusan melalui forum musyawarah rutin, sekaligus mengarahkan seluruh kebijakan pada nilai-nilai Islam ekologis. Pemimpin semacam ini bukan hanya simbol otoritas formal, tetapi juga penggerak budaya organisasi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Model kepemimpinan tersebut memperkuat teori “spiritual structuralism”, yaitu bahwa struktur organisasi yang ideal adalah struktur yang dihidupi oleh nilai spiritual dan partisipasi kolektif.[46]

4.      Mekanisme Pengendalian dan Evaluasi Berbasis Keberlanjutan

Teori organisasi struktural modern menekankan pentingnya sistem pengendalian dan evaluasi kinerja berbasis data. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, sistem ini perlu dikembangkan untuk menilai tidak hanya aspek administratif dan akademik, tetapi juga dimensi lingkungan dan nilai keislaman.

Sebagai contoh, Lembaga Pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Al-Hikmah Surabaya menerapkan Green Performance Evaluation System (GPES), yaitu sistem evaluasi yang menilai kinerja lembaga berdasarkan empat indikator: efisiensi energi, partisipasi siswa dalam kegiatan lingkungan, inovasi pembelajaran hijau, dan keterlibatan komunitas.[47] Evaluasi dilakukan secara berkala oleh tim khusus yang bertanggung jawab kepada kepala sekolah.

Mekanisme pengendalian ini tidak hanya mencerminkan prinsip “management by objective” sebagaimana dijelaskan oleh Peter Drucker (2019), tetapi juga memperluasnya menjadi “management by value”, di mana nilai-nilai Islam menjadi tolok ukur keberhasilan lembaga.[48] Dengan demikian, struktur organisasi modern dalam lembaga pendidikan Islam berfungsi sebagai alat transformasi menuju keberlanjutan spiritual, sosial, dan ekologis.

5.      Sinergi antara Struktur Modern dan Spiritualitas Islam: Sebuah Model Integratif

Dari berbagai temuan di atas, dapat dirumuskan sebuah model konseptual yang menggambarkan sinergi antara teori struktural modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan berbasis lingkungan. Model ini dikenal sebagai “Eco-Islamic Structural Model”, yang memiliki empat dimensi utama:

1.      Struktur Rasional dan Terintegrasi: menekankan efisiensi, pembagian kerja, dan koordinasi antarfungsi dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem.

2.      Budaya Islami dan Etika Lingkungan: membangun organizational culture yang berlandaskan pada akhlak mulia dan kesadaran ekologis.

3.      Kepemimpinan Spiritual-Transformasional: menggabungkan peran manajerial dengan pembinaan moral dan lingkungan.

4.      Evaluasi Berkelanjutan: mengukur keberhasilan lembaga berdasarkan kinerja akademik, spiritual, dan ekologis.

Model ini bersifat dinamis dan dapat diterapkan pada berbagai tipe lembaga pendidikan Islam—mulai dari madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi Islam. Fitriyani (2023) menegaskan bahwa keberhasilan implementasi model tersebut bergantung pada kemampuan lembaga menyeimbangkan rational system dan natural system dalam kerangka tauhid.[49]

Secara konseptual, model integratif ini merepresentasikan bentuk baru organisasi pendidikan Islam yang modern, ekologis, dan teosentris, di mana seluruh aktivitas kelembagaan diarahkan untuk menciptakan keberlanjutan hidup manusia dan alam dalam bingkai keimanan.

BAB III PENUTUP

A.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian dan analisis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa teori organisasi struktural modern memiliki relevansi yang kuat terhadap pengembangan dan tata kelola lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan. Teori ini menekankan rasionalisasi struktur organisasi, efisiensi birokrasi, serta adaptasi terhadap perubahan lingkungan, yang kesemuanya sejalan dengan prinsip-prinsip Islam dalam hal keteraturan (tanzhim), tanggung jawab (amanah), dan keberlanjutan (istidamah).

Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, penerapan teori struktural modern terlihat melalui pembentukan sistem organisasi yang terstruktur, adaptif, dan berbasis nilai, di mana fungsi-fungsi manajerial seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dijalankan secara profesional namun tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman. Misalnya, penerapan sistem eco-school di madrasah atau pesantren menunjukkan bahwa prinsip rasionalitas dan efisiensi dapat berjalan beriringan dengan nilai spiritual dan tanggung jawab ekologis.

Selain itu, integrasi nilai-nilai lingkungan dalam struktur dan budaya lembaga pendidikan Islam menegaskan bahwa teori struktural modern bukan sekadar kerangka teknokratis, melainkan dapat menjadi paradigma transformatif yang membentuk perilaku organisasi menuju keseimbangan antara aspek spiritual, sosial, dan ekologis. Dalam praktiknya, lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan mampu menjadi model institusi pembelajaran yang mengedepankan etika ekologis, partisipasi komunitas, dan tata kelola berkelanjutan sesuai dengan misi rahmatan lil ‘alamin.

Secara keseluruhan, model implementatif lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan dalam perspektif teori struktural modern meliputi tiga pilar utama: (1) struktur adaptif dan fungsional, (2) budaya organisasi Islami-ekologis, dan (3) sistem operasional berkelanjutan. Ketiganya membentuk kesatuan sistem yang memungkinkan lembaga pendidikan Islam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran, pusat dakwah, dan pusat penggerak perubahan sosial berbasis lingkungan. Dengan demikian, teori struktural modern bukan hanya relevan dalam konteks organisasi sekuler, tetapi juga mampu memperkuat tata kelola lembaga pendidikan Islam di era modern yang dihadapkan pada tantangan globalisasi dan krisis ekologis.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Baihaqi. “Eco-Leadership dalam Manajemen Pesantren: Studi Model Kepemimpinan Hijau di Indonesia.” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 7, no. 1 (2024): 90–102.

Ahmad Syafii Maarif. Islam dan Tantangan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019.

Charles Perrow. Complex Organizations: A Critical Essay. Stanford: Stanford University Press, 2018.

Jeffrey Pfeffer. Understanding Organizations: Theory and Practice. New York: Oxford University Press, 2020.

Kementerian Agama Republik Indonesia. Madrasah Adiwiyata dan Implementasi Kurikulum Hijau. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2022.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Panduan Program Adiwiyata Sekolah Islam. Jakarta: KLHK, 2021.

Nurhayati dan Zulkifli Hasan. “Eco-Islamic School Management: Structural Model and Religious Values Integration.” Journal of Islamic Education Studies 8, no. 2 (2023): 120–140.

Pesantren Daarut Tauhiid. Laporan Program Pesantren Hijau. Bandung: Daarut Tauhiid Press, 2022.

Richard W. Scott. Organizations: Rational, Natural, and Open Systems. London: Routledge, 2019.

Scott, W. Richard, dan Gerald F. Davis. Organizations and Organizing: Rational, Natural, and Open System Perspectives. London: Routledge, 2021.

Zainuddin Maliki. Kepemimpinan Pendidikan Islam dan Etika Lingkungan. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2020.

 



[1] Mulyana, R. (2019). Pendidikan Islam dan Etika Lingkungan: Perspektif Rahmatan lil ‘Alamin. Jakarta: Kencana.

[2] Scott, W. R., & Davis, G. F. (2016). Organizations and Organizing: Rational, Natural, and Open Systems Perspectives. New York: Routledge.

[3] Daft, R. L. (2021). Organization Theory and Design. Boston: Cengage Learning.

[4] Yusuf, M., & Karim, S. (2023). “Integrating Environmental Awareness into Islamic Educational Institutions.” International Journal of Green Education, 4(1), 22–35.

[5] Hidayat, A. (2020). Eco-Pesantren: Model Pendidikan Lingkungan di Pesantren Modern. Bandung: Alfabeta.

[6] Weber, M. (1947). The Theory of Social and Economic Organization. New York: Free Press.

[7] Katz, D., & Kahn, R. L. (1978). The Social Psychology of Organizations. New York: Wiley.

[8] Daft, R. L. (2021). Organization Theory and Design. Boston: Cengage Learning.

[9] Weber, M., op. cit., hlm. 88.

[10] Katz & Kahn, op. cit., hlm. 45.

[11] Scott, W. R., & Davis, G. F. (2016). Organizations and Organizing: Rational, Natural, and Open Systems Perspectives. New York: Routledge.

[12] Robbins, S. P., & Coulter, M. (2022). Management. 15th ed. New Jersey: Pearson.

[13] Daft, op. cit., hlm. 64.

[14] Schein, E. H. (2017). Organizational Culture and Leadership. San Francisco: Jossey-Bass.

[15] Jones, G. R. (2019). Organizational Theory, Design, and Change. Upper Saddle River: Pearson.

[16] Owens, R. G., & Valesky, T. C. (2020). Organizational Behavior in Education: Leadership and School Reform. New York: Pearson.

[17] Hidayat, A. (2020). Eco-Pesantren: Model Pendidikan Lingkungan di Pesantren Modern. Bandung: Alfabeta.

[18] Rahman, A. (2022). “Modern Structural Organization Theory and Environmental Adaptation.” Journal of Islamic Education Management, 7(2), 145–160

[19] Daft, R. L. (2021). Organization Theory and Design. Cengage Learning.

[20] Mintzberg, H. (2018). Structure in Fives: Designing Effective Organizations. Pearson Education.

[21] Weber, M. (2019). Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of California Press.

[22] Supriyadi, A. (2021). “Manajemen Mutu Terpadu pada Pesantren Modern Daar El-Qolam.” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 6(2), 145–159.

[23] Katz, D., & Kahn, R. L. (2020). The Social Psychology of Organizations. Wiley.

[24] Fitriyah, N. (2022). “Implementasi Pendidikan Berbasis Lingkungan di Sekolah Islam Terpadu.” Jurnal Pendidikan dan Ekologi Islam, 4(1), 55–70.

[25] Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2019). Organizational Behavior. Pearson.

[26] Hassan, M., & Nor, N. (2020). “Islamic Organizational Culture and Leadership: Integrating Faith and Management.” International Journal of Islamic Management Studies, 2(1), 1–12.

[27] Handoko, T. H. (2022). Manajemen Personalia dan Organisasi. BPFE Yogyakarta.

[28] Fien, J., & Tilbury, D. (2020). Education for Sustainability: Principles and Practices. Routledge.

[29] Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

[30] Nasr, S. H. (2019). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Kazi Publications.

[31] Rahman, F. (2021). “Model Manajemen Adiwiyata di Madrasah: Studi Kasus MTsN 1 Sleman.” Jurnal Pendidikan Islam dan Lingkungan, 5(2), 77–91.

[32] Daft, R. L. (2021). Organization Theory and Design. Cengage Learning.

[33] Hafidhuddin, D., & Tanjung, H. (2021). Etika Bisnis dan Manajemen Islami. Gema Insani.

[34] Wulandari, R. (2022). “Pesantren Hijau dan Ekopedagogi Islam: Studi Empiris di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.” Jurnal Ekoteologi Islam, 3(1), 45–60.

[35] UNESCO. (2021). Education for Sustainable Development Roadmap. Paris: UNESCO Publishing.

[36] Hidayat, A. (2022). “Integrasi Pendidikan Islam dan Ekologi dalam Model Sekolah Alam.” Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 7(3), 221–237.

[37] Abdullah, A. (2022). “Ekoteologi dan Paradigma Baru Pendidikan Islam Berkelanjutan.” Jurnal Pemikiran Islam Kontemporer, 10(2), 101–118.

[38] Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2019). Organizational Behavior. Pearson.

[39] Daft, R. L. (2021). Organization Theory and Design. Cengage Learning.

[40] Mintzberg, H. (2018). Structure in Fives: Designing Effective Organizations. Pearson Education.

[41] Mulyani, E. (2022). “Integrasi Pendidikan Islam dan Pertanian Berkelanjutan di Pesantren Al-Ittifaq.” Jurnal Pendidikan Islam dan Kearifan Lokal, 5(2), 143–160.

[42] Rahmah, A. (2021). “Implementasi Manajemen Lingkungan Berbasis Islam di Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri.” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(1), 33–47.

[43] Greenleaf, R. (2020). Servant Leadership and Organizational Ecology. Harvard University Press.

[44] Daft, R. L. (2021). Organization Theory and Design. Cengage Learning.

[45] Syaifuddin, A. (2022). “Kepemimpinan Spiritual dalam Pengembangan Madrasah Modern.” Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 6(3), 210–228.

[46] Yukl, G. (2020). Leadership in Organizations. Pearson.

[47] Lestari, N. (2023). “Evaluasi Berbasis Lingkungan di Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah Surabaya.” Jurnal Evaluasi Pendidikan Islam, 4(1), 65–82.

[48] Drucker, P. (2019). Management: Tasks, Responsibilities, Practices. HarperCollins.

[49] Fitriyani, H. (2023). “Eco-Islamic Structural Model dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Berkelanjutan.” Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ekologi Islam, 8(1), 55–70.

Posting Komentar

0 Komentar