Makalah Teori Organisasi Struktural Modern Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Lingkungan
Trian Hermawan
Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung
ABSTRAK
Makalah ini membahas relevansi dan implementasi
teori organisasi struktural modern dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam
berbasis lingkungan. Berangkat dari tantangan modernitas, krisis ekologi, dan
tuntutan tata kelola kelembagaan yang akuntabel, kajian ini menelaah bagaimana
prinsip rasionalitas struktural, sistem terbuka, adaptabilitas, dan budaya
organisasi dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam seperti tauhid,
amanah, syura, dan tanggung jawab ekologis. Menggunakan pendekatan kajian pustaka
teoretis dan ilustrasi empiris dari praktik lembaga pendidikan Islam
(pesantren, madrasah, dan sekolah Islam modern), makalah ini menunjukkan bahwa
organisasi pendidikan Islam mampu bertransformasi menjadi institusi yang
efisien sekaligus spiritual-ekologis. Hasil analisis menegaskan bahwa model eco-Islamic
education institution—melalui desain struktur adaptif, manajemen berbasis
nilai, kepemimpinan partisipatif-spiritual, serta mekanisme evaluasi
berkelanjutan—mendorong terciptanya tata kelola yang profesional, transparan,
dan berpihak pada keberlanjutan. Integrasi teori struktural modern dengan etika
lingkungan Islam tidak sekadar menghadirkan inovasi administratif, tetapi juga
membangun paradigma pendidikan holistik yang menyinergikan dimensi akademik,
moral, dan ekologis. Dengan demikian, teori organisasi struktural modern menawarkan
fondasi strategis bagi penguatan lembaga pendidikan Islam dalam menjawab
tantangan globalisasi dan krisis lingkungan, sekaligus mewujudkan misi rahmatan
lil ‘alamin.
Kata
kunci: Teori organisasi struktural modern; lembaga
pendidikan Islam; eco-Islamic education; manajemen Pendidikan,budaya organisasi
Islami; kepemimpinan spiritual; keberlanjutan lingkungan;
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dinamika perkembangan lembaga pendidikan Islam di
Indonesia, isu tentang efektivitas struktur organisasi dan keselarasan antara
nilai keislaman dengan tantangan modernitas menjadi topik yang semakin relevan.
Perubahan sosial, kemajuan teknologi, serta krisis lingkungan global telah
menuntut lembaga pendidikan untuk bertransformasi secara sistemik agar tetap
eksis dan berdaya saing. Pendidikan Islam tidak lagi cukup berfokus pada aspek
teologis semata, tetapi juga harus mengembangkan dimensi ekologis dan sosial
yang sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin — rahmat bagi seluruh
alam semesta [1].
Teori organisasi struktural modern menawarkan kerangka
konseptual yang memandang organisasi sebagai sistem sosial yang rasional,
adaptif, dan terbuka terhadap perubahan lingkungan eksternal [2].
Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, teori ini relevan karena dapat
memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah lembaga mengelola struktur,
sumber daya, dan budaya organisasinya agar mampu merespons tantangan modern
tanpa kehilangan akar nilai-nilai spiritual Islam.
Modernitas, di satu sisi, membawa peluang bagi lembaga
pendidikan Islam untuk memperkuat tata kelola, efisiensi, serta transparansi;
namun di sisi lain, juga menghadirkan risiko terpinggirkannya nilai-nilai moral
dan spiritual dalam pengambilan keputusan [3].
Di sinilah pentingnya pendekatan struktural modern yang berlandaskan
prinsip-prinsip Islam dan berorientasi pada kelestarian lingkungan. Konsep eco-Islamic
education institution kemudian muncul sebagai inovasi kelembagaan yang
mengintegrasikan aspek manajemen modern dengan nilai tauhid, amanah, dan
tanggung jawab terhadap lingkungan [4].
Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah, dan
perguruan tinggi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam
penerapan teori organisasi struktural modern berbasis lingkungan. Sebagai
contoh, beberapa pesantren di Jawa Barat dan Jawa Timur telah mengembangkan
model eco-pesantren yang menekankan pentingnya pengelolaan energi
terbarukan, sanitasi ramah lingkungan, dan kurikulum berbasis ekoteologi Islam [5].
Model tersebut menggambarkan bahwa struktur organisasi pendidikan Islam yang
modern tidak hanya bertujuan pada efisiensi administrasi, tetapi juga pada
penciptaan tata nilai baru yang berpihak pada keberlanjutan hidup.
Dengan
demikian, pembahasan mengenai teori organisasi struktural modern dalam konteks
lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan menjadi penting untuk dikaji.
Pendekatan ini tidak hanya menelaah sisi teoritis manajemen organisasi, tetapi
juga memperluas maknanya ke arah spiritualitas ekologis dan etika kepemimpinan
Islam yang berwawasan lingkungan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan
dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Bagaimana pengertian dan
prinsip dasar teori organisasi struktural modern?
- Bagaimana penerapan teori
organisasi struktural modern dalam konteks lembaga pendidikan Islam?
- Bagaimana konsep lembaga
pendidikan Islam berbasis lingkungan dapat diintegrasikan dengan teori
organisasi struktural modern?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:
- Menjelaskan hakikat dan
prinsip-prinsip teori organisasi struktural modern.
- Menganalisis penerapan teori
organisasi struktural modern dalam tata kelola lembaga pendidikan Islam.
- Mengkaji relevansi antara teori
organisasi struktural modern dengan pengembangan lembaga pendidikan Islam
berbasis lingkungan.
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep
Dasar Teori Organisasi Struktural Modern
Teori
organisasi struktural modern merupakan hasil evolusi panjang dari pemikiran
tentang bagaimana organisasi seharusnya disusun, dikelola, dan dijalankan untuk
mencapai tujuan secara efektif. Dalam pandangan klasik, organisasi dipahami
sebagai sistem mekanistik yang menekankan hierarki, pembagian kerja, dan
kontrol yang ketat sebagaimana dikemukakan oleh Max Weber dan Frederick W.
Taylor [6].
Namun, seiring dengan perkembangan masyarakat dan kompleksitas lingkungan
eksternal, paradigma organisasi mulai bergeser dari sistem tertutup menuju
sistem terbuka, yang mengakui adanya hubungan dinamis antara organisasi dan
lingkungannya [7].
Dalam konteks
ini, teori organisasi struktural modern menekankan bahwa organisasi bukan
sekadar kumpulan individu yang bekerja berdasarkan aturan formal, melainkan
sistem adaptif yang memiliki kemampuan untuk belajar, berinovasi, dan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Menurut Richard L. Daft,
organisasi modern memiliki empat karakteristik utama, yaitu: rasionalitas
struktural, fleksibilitas, orientasi tujuan jangka panjang, serta
interdependensi antarbagian [8].
Keempat karakteristik ini menjadi fondasi dalam memahami bagaimana organisasi
modern dikelola secara efisien tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan sosial, teknologi, dan ekologis.
1.
Tokoh Teori Organisasi Stuktural Modern dan Pemikirannya
Tom Burns dan
Stalker: Peraturan formal, komunikasi vertikal, dan struktur pengambilan
keputusan sangat menentukan penerapan sistem mekanistik dan organistik dalam
suatu organisasi. Rasionalitas perilaku organisasi dapat dicapai dengan baik
melalui otoritas formal yang jelas.
Amitai Etzioni:
Tiga hal yang sangat berpengaruh dalam suatu organisasi adalah kepatuhan,
tujuan, dan efektivitas. Ketiganya memiliki pola hubungan yang saling
bergantung satu sama lain. Peter Blau dan
Richard Scott:
Hubungan dalam organisasi ada dua yaitu formal dan informal. Hubungan informal
bersumber dari struktur organisasi formal dan sangat membantu organisasi formal
dalam menetapkan norma dan aturan bekerja.
Arthur Walker
dan Jay Lorsch: Pengaturan struktur organisasi yang memadai sangat bergantung
pada lingkungan organisasi dan sifat-sifat organisasi itu sendiri.
2. Evolusi
dan Paradigma Dasar
Teori
organisasi struktural modern berakar dari pemikiran klasik, tetapi berkembang
ke arah sistem yang lebih kompleks. Pada era klasik, Weber mengemukakan konsep
birokrasi yang ideal sebagai bentuk organisasi yang paling rasional karena
berlandaskan aturan formal, spesialisasi kerja, dan hirarki otoritas yang jelas [9].
Akan tetapi, model birokrasi ini kemudian dikritik karena dianggap terlalu kaku
dan tidak responsif terhadap perubahan lingkungan. Dari sinilah muncul teori
organisasi modern yang berupaya menyeimbangkan antara struktur formal dan
kebutuhan akan fleksibilitas.
Pendekatan
modern memperkenalkan pandangan bahwa organisasi adalah sistem terbuka (open system), sebagaimana
dijelaskan oleh Katz dan Kahn (1978), yang memandang organisasi sebagai
subsistem dalam masyarakat yang lebih luas [10].
Artinya, organisasi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi,
politik, dan ekologis tempat ia berada. Dengan demikian, efektivitas organisasi
tidak hanya diukur dari efisiensi internal, tetapi juga dari kemampuannya
beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan eksternal.
Dalam kerangka
ini, teori organisasi struktural modern tidak sekadar berbicara tentang bentuk
struktur, tetapi juga mencakup aspek perilaku organisasi, budaya kerja,
komunikasi, hingga nilai-nilai yang membentuk identitas lembaga. Scott dan
Davis (2016) menyebut bahwa organisasi modern bersifat rational-natural-open system, yang
berarti menggabungkan rasionalitas formal (aturan dan tujuan), sifat alami
manusia (kebutuhan sosial dan nilai), serta keterbukaan terhadap lingkungan [11].
3. Ciri dan
Prinsip Utama
Teori
organisasi struktural modern memiliki sejumlah prinsip utama yang membedakannya
dari teori klasik maupun neoklasik. Adapun prinsip-prinsip tersebut meliputi:
1.
Rasionalitas dan Efisiensi Struktural: Organisasi modern berusaha mencapai tujuan melalui struktur yang
rasional dan efisien. Pembagian kerja dilakukan berdasarkan kompetensi, bukan
sekadar hierarki jabatan. Struktur ini mendorong adanya koordinasi antarunit
agar tercipta keselarasan antara visi organisasi dan pelaksanaan operasionalnya [12].
2.
Keterbukaan terhadap Lingkungan (Open System Thinking): Setiap organisasi modern dipandang sebagai sistem yang berinteraksi
dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik ini mencakup masukan (input),
proses transformasi, dan keluaran (output). Organisasi yang tertutup terhadap
perubahan lingkungan akan kehilangan relevansi dan daya saing [13].
3.
Adaptabilitas dan Inovasi: Dalam teori struktural modern, kemampuan organisasi untuk
beradaptasi menjadi faktor kunci keberlangsungan. Adaptasi tidak hanya bersifat
reaktif terhadap perubahan eksternal, tetapi juga proaktif dalam menciptakan
inovasi dan pengembangan strategi baru.
4.
Integrasi Nilai dan Budaya Organisasi: Meskipun bersifat rasional, teori ini mengakui pentingnya
nilai-nilai budaya dan etika dalam membentuk identitas organisasi. Nilai
menjadi kekuatan yang mengikat dan mengarahkan perilaku kolektif agar selaras
dengan visi organisasi [14].
5.
Pendekatan Multidisipliner: Pendekatan modern menekankan bahwa organisasi tidak dapat dipahami
hanya dari satu perspektif ilmu. Kajian organisasi modern menggabungkan
disiplin manajemen, psikologi, sosiologi, antropologi, dan bahkan ekologi,
untuk memahami kompleksitas sistem sosial di dalam organisasi[15].
4.
Aplikasi dalam Bidang Pendidikan
Dalam dunia
pendidikan, teori organisasi struktural modern memiliki relevansi yang tinggi
karena lembaga pendidikan merupakan sistem sosial kompleks yang terdiri atas
manusia, teknologi, nilai, dan tujuan. Pendidikan Islam, misalnya, beroperasi
dalam konteks sosial dan budaya yang sarat nilai spiritual. Oleh karena itu, pendekatan
struktural modern dapat membantu lembaga pendidikan Islam menata sistemnya
secara rasional tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman.
Menurut Owens
dan Valesky (2020), organisasi pendidikan modern perlu menerapkan prinsip
efisiensi struktural melalui pembagian fungsi yang jelas antara manajemen, kurikulum,
dan sumber daya manusia[16].
Namun, pada saat yang sama, lembaga pendidikan harus mempertahankan
fleksibilitas agar mampu menanggapi perubahan sosial dan teknologi dengan
cepat. Dalam konteks Islam, fleksibilitas ini tidak hanya berarti adaptasi
terhadap teknologi, tetapi juga kemampuan menafsirkan nilai-nilai keislaman
secara kontekstual terhadap tantangan zaman.
Sebagai contoh,
penerapan teori ini di lembaga pendidikan Islam dapat terlihat pada sistem
manajemen pesantren modern yang menerapkan pembagian kerja fungsional
(administrasi, pendidikan, dan dakwah), tetapi tetap mempertahankan struktur
nilai yang berlandaskan pada ukhuwah Islamiyah dan amanah dalam setiap lini kepemimpinan[17].
5.
Relevansi dengan Tantangan Ekologis dan
Sosial
Salah satu
aspek penting dalam teori organisasi modern adalah kesadarannya terhadap
lingkungan eksternal yang terus berubah. Dalam konteks global saat ini, salah
satu perubahan yang paling mendasar adalah krisis ekologi. Organisasi modern
tidak lagi dapat memisahkan dirinya dari tanggung jawab terhadap keberlanjutan
lingkungan. Oleh karena itu, muncul paradigma baru dalam teori organisasi yaitu
environmental-based organization, yang memandang keberlanjutan lingkungan sebagai bagian integral
dari strategi kelembagaan[18].
Lembaga
pendidikan Islam, dengan landasan teologis yang kuat pada konsep khalifah fil ard (manusia sebagai
pemelihara bumi), memiliki posisi strategis untuk menerapkan teori ini. Prinsip
tanggung jawab ekologis dapat diinternalisasi dalam struktur organisasi,
misalnya dengan membentuk unit khusus yang menangani program lingkungan,
efisiensi energi, atau pendidikan hijau. Integrasi nilai Islam dengan teori
organisasi modern menjadikan lembaga pendidikan tidak hanya rasional secara
struktural, tetapi juga moral secara spiritual dan ekologis.
Dengan
demikian, teori organisasi struktural modern menyediakan landasan teoritis bagi
lembaga pendidikan Islam untuk membangun struktur yang efisien, adaptif, dan
berkelanjutan. Ia menjadi jembatan antara tuntutan efisiensi manajerial dan
kewajiban moral Islam terhadap pelestarian lingkungan.
B. Penerapan
Teori Organisasi Struktural Modern dalam Lembaga Pendidikan Islam
Teori
organisasi struktural modern memberikan kerangka berpikir yang sangat relevan
bagi pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam (LPI), terutama dalam konteks peningkatan efektivitas kelembagaan dan
adaptasi terhadap dinamika sosial-lingkungan. Paradigma ini menekankan pada
pentingnya struktur formal, pembagian kerja, hierarki, serta koordinasi sistemik yang memungkinkan lembaga pendidikan beroperasi secara efisien
tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan moral Islam. Dalam penerapannya,
teori ini membantu lembaga pendidikan Islam membangun sistem manajemen
yang rasional, efisien, dan akuntabel,
sekaligus tetap menjaga identitas religiusnya sebagai lembaga yang berorientasi
pada pembentukan insan kamil (manusia paripurna).
Menurut Daft (2021), teori organisasi struktural modern memandang organisasi sebagai
sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait dan bekerja
sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks LPI, ini berarti setiap
komponen lembaga—mulai dari pimpinan, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta
didik—memiliki peran yang jelas dalam struktur yang terkoordinasi dengan baik.[19]
Struktur formal yang terdefinisi membantu menghindari tumpang tindih fungsi dan
memudahkan proses pengambilan keputusan berbasis musyawarah dan nilai keadilan.
Lebih lanjut, Mintzberg (2018) mengemukakan bahwa struktur organisasi modern idealnya bersifat
dinamis dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan eksternal.[20]
Lembaga pendidikan Islam, misalnya madrasah, pesantren, dan sekolah berbasis
Islam modern, kini menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi pendidikan,
dan tuntutan profesionalisme guru. Untuk itu, penerapan teori organisasi
struktural modern menuntut adanya reformasi tata kelola yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam sistem organisasi
berbasis efisiensi dan akuntabilitas modern.
1.
Dimensi Struktural dan Fungsional dalam
Lembaga Pendidikan Islam
Secara
struktural, penerapan teori ini tampak pada bagaimana lembaga pendidikan Islam
menyusun hierarki otoritas dan pembagian kerja (division of labor). Sebagai contoh, dalam sebuah madrasah aliyah modern, struktur
organisasi umumnya terdiri atas kepala madrasah, wakil kepala
bidang kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, dan humas, diikuti oleh unit-unit pendukung seperti tata usaha, guru, serta
komite sekolah. Struktur ini menggambarkan prinsip rasionalitas Weberian yang
menekankan pentingnya spesialisasi tugas dan sistem otoritas legal-rasional.[21]
Dalam praktiknya, pembagian
kerja ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berdimensi
spiritual, karena setiap fungsi diarahkan pada
tujuan pendidikan Islam, yakni pembentukan akhlak mulia dan keunggulan ilmu.
Contohnya, guru Pendidikan Agama Islam tidak sekadar menyampaikan pengetahuan
kognitif, melainkan juga menjadi role model dalam perilaku etis di lingkungan sekolah. Prinsip unity of command (kesatuan komando)
tetap dijaga agar koordinasi berjalan efektif tanpa mengabaikan nilai
musyawarah sebagai wujud partisipasi kolektif.
Di sisi lain,
fungsi koordinasi juga dioptimalkan melalui penerapan sistem rapat rutin,
supervisi akademik, dan evaluasi berbasis indikator kinerja. Sebagai contoh empiris, Pondok Pesantren Daar El-Qolam di
Banten menerapkan sistem manajemen mutu
berbasis Total Quality Management (TQM) yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Dalam model tersebut,
setiap elemen organisasi terlibat aktif dalam siklus planning–doing–checking–acting
(PDCA), tetapi seluruh kebijakan tetap diarahkan untuk menjaga visi pendidikan
Islam yang berorientasi pada iman dan amal salih.[22]
2.
Adaptasi terhadap Lingkungan dan Dinamika
Sosial
Salah satu ciri
teori organisasi struktural modern adalah kemampuannya untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, adaptasi ini
mencakup kemampuan menghadapi perubahan sosial, politik, dan teknologi tanpa
kehilangan identitas religius. Katz dan Kahn (2020) menjelaskan bahwa organisasi pendidikan merupakan sistem terbuka (open system) yang memerlukan
interaksi dengan lingkungan eksternal agar tetap relevan dan berkelanjutan.[23]
Contoh
penerapannya dapat dilihat pada Sekolah Islam Terpadu (SIT)
Al-Falah Surabaya, yang mengintegrasikan
kurikulum nasional dengan kurikulum keislaman berbasis lingkungan (eco-Islamic education). Dalam
praktiknya, sekolah tersebut membangun budaya organisasi yang mengedepankan
keberlanjutan lingkungan (sustainability), seperti program daur ulang, pengelolaan sampah berbasis syariah,
dan pembelajaran ekoteologi.[24]
Pendekatan ini merupakan wujud konkret dari teori struktural modern yang
menekankan fit antara
struktur organisasi dan lingkungan.
Lebih jauh,
penerapan sistem informasi manajemen sekolah (SIMS) yang terintegrasi juga
menjadi contoh penerapan prinsip modernisasi struktural. Penggunaan teknologi
untuk pengarsipan nilai, pelaporan keuangan, hingga pengawasan mutu menunjukkan
bahwa lembaga pendidikan Islam tidak lagi hanya berfokus pada spiritualitas,
tetapi juga efisiensi operasional. Menurut Robbins dan Judge (2019), organisasi yang efisien adalah organisasi yang mampu mengelola
sumber daya secara rasional dengan dukungan teknologi dan sistem kontrol yang
baik.[25]
Dengan demikian, transformasi digital dalam lembaga pendidikan Islam bukanlah
sekularisasi, melainkan optimalisasi sarana dakwah dan pendidikan berbasis
data.
3.
Integrasi Nilai Islam dalam Struktur
Organisasi Modern
Salah satu
tantangan utama dalam menerapkan teori organisasi modern pada lembaga
pendidikan Islam adalah sinkronisasi antara rasionalitas struktural dan
nilai spiritual Islam. Rasionalitas organisasi
modern sering dikritik karena terlalu menekankan efisiensi teknis, sedangkan
pendidikan Islam berlandaskan pada nilai-nilai etik, moral, dan tauhid. Namun,
integrasi antara keduanya dapat diwujudkan melalui konsep Islamic Organizational Culture
(budaya organisasi Islami).
Menurut Hassan dan Nor
(2020), budaya organisasi Islami mencerminkan
kesadaran bahwa setiap aktivitas organisasi merupakan ibadah, dan setiap
anggota organisasi memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah.[26]
Dengan demikian, penerapan teori organisasi struktural modern tidak berarti
sekularisasi lembaga Islam, tetapi justru penguatan tata kelola yang
transparan, terukur, dan sesuai dengan prinsip keadilan. Misalnya, mekanisme
evaluasi guru dapat dikaitkan dengan konsep muhasabah (introspeksi diri), sementara perencanaan strategis sekolah dapat
didasarkan pada prinsip syura (musyawarah) dan amanah (tanggung jawab).
Empirinya
tampak pada praktik SMA Islam Al-Azhar 14 Semarang, di mana sistem organisasi berbasis hasil kerja (performance-based
system) diterapkan bersamaan dengan pembinaan spiritual berkala bagi guru dan
staf. Dengan demikian, teori organisasi modern dapat menjadi alat untuk
memperkuat kualitas lembaga tanpa menghilangkan dimensi keislamannya.
4.
Tantangan dan Strategi Implementasi
Meskipun
penerapan teori organisasi struktural modern membawa banyak manfaat, terdapat
sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Pertama, adanya resistensi budaya
terhadap modernisasi sistem manajerial di lingkungan lembaga Islam tradisional.
Banyak pesantren atau madrasah yang masih mengandalkan pola kepemimpinan
karismatik berbasis figur kiai. Kedua, keterbatasan sumber daya manusia dalam
penguasaan teknologi informasi dan manajemen profesional.
Untuk mengatasi
hal tersebut, diperlukan pendekatan gradual dan kontekstual, sebagaimana disarankan oleh Handoko (2022), yakni reformasi struktural harus dimulai dari pembenahan sistem
administrasi dan penguatan kompetensi sumber daya manusia.[27]
Strategi pelatihan manajemen Islami, digitalisasi lembaga, serta penguatan
nilai-nilai spiritual dalam praktik manajerial dapat menjadi jalan tengah yang
seimbang antara modernitas dan religiusitas.
Dengan demikian, penerapan teori
organisasi struktural modern dalam lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan
tidak hanya memperkuat efektivitas struktural, tetapi juga menjadi sarana untuk
membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan, adaptif, dan berlandaskan
nilai-nilai Islam.
C.
Integrasi Nilai Lingkungan dalam Struktur
dan Budaya Lembaga Pendidikan Islam Modern
Integrasi
nilai-nilai lingkungan ke dalam struktur dan budaya organisasi lembaga
pendidikan Islam modern merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan
yang berkelanjutan (sustainable education) dan selaras dengan prinsip rahmatan
lil ‘alamin. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan
Islam tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu agama dan akhlak,
tetapi juga sebagai agen perubahan sosial-ekologis yang menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan
antara manusia dan alam.
Menurut Fien dan Tilbury
(2020), pendidikan yang berorientasi
lingkungan harus menekankan tiga dimensi utama, yaitu: pengetahuan
ekologis, etika lingkungan, dan tindakan keberlanjutan.[28]
Ketiga aspek ini dapat diinternalisasikan dalam sistem struktural dan budaya
organisasi lembaga pendidikan Islam melalui mekanisme kelembagaan, kurikulum,
dan tata kelola berbasis nilai-nilai Islami. Dalam perspektif Islam, manusia
diciptakan sebagai khalifah fi al-ardh
(pemelihara bumi), sehingga tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan
menjadi bagian integral dari ibadah dan etika sosial.
1.
Dasar Teologis Integrasi Nilai Lingkungan
dalam Pendidikan Islam
Konsep
pelestarian lingkungan dalam Islam berakar dari ajaran Al-Qur’an dan hadis yang
menegaskan tanggung jawab manusia terhadap alam. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf (7):56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah
(Allah) memperbaikinya.” Ayat ini mengandung nilai
moral ekologis bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ketaatan kepada
Tuhan.[29]
Dari perspektif
kelembagaan, nilai ini menjadi dasar filosofis bagi struktur organisasi lembaga
pendidikan Islam modern. Setiap unit kerja—baik akademik, administrasi, maupun
pengembangan sarana—harus menginternalisasikan nilai tanggung jawab ekologis dalam
kebijakan dan prosedur operasionalnya. Misalnya, lembaga dapat membentuk unit atau divisi
adiwiyata Islami, yang berfungsi mengelola
program ramah lingkungan berbasis nilai keislaman.
Sebagaimana
dikemukakan oleh Nasr (2019), krisis
lingkungan global merupakan akibat dari hilangnya kesadaran spiritual manusia
terhadap kesucian alam sebagai ciptaan Tuhan.[30]
Oleh karena itu, pembentukan struktur organisasi yang memasukkan nilai-nilai
lingkungan bukan sekadar adaptasi terhadap tren global eco-education, tetapi juga bentuk
aktualisasi spiritualitas Islam dalam konteks modernitas.
2.
Struktur Organisasi Berbasis Lingkungan
dalam Lembaga Pendidikan Islam
Integrasi nilai
lingkungan dalam struktur organisasi lembaga pendidikan Islam modern mencakup reorientasi
kelembagaan agar setiap bagian memiliki peran
dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Prinsip efisiensi,
rasionalitas, dan hierarki dalam teori
organisasi struktural modern dapat disinergikan dengan prinsip amanah, khalifah,
dan ihsan dalam Islam untuk membentuk struktur
organisasi yang ekologis dan spiritual.
Sebagai contoh,
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Sleman telah mengembangkan sistem tata kelola berbasis lingkungan melalui
program Green School Management. Struktur organisasi sekolah dimodifikasi dengan menambahkan Koordinator
Adiwiyata yang bertanggung jawab langsung
kepada Kepala Madrasah.[31]
Posisi ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga simbolis—mewakili
komitmen lembaga terhadap prinsip keberlanjutan.
Setiap unit
organisasi juga diberi peran dalam mendukung agenda ekologis, seperti:
a. Bagian Kurikulum, yang memastikan materi pelajaran memasukkan nilai etika lingkungan
berbasis Al-Qur’an.
b. Bagian Sarana dan
Prasarana, yang bertanggung jawab atas
pengelolaan energi dan limbah sekolah.
c. Bagian Kesiswaan, yang membina kegiatan ekstrakurikuler seperti eco-santri club atau bank sampah pesantren.
Pendekatan ini
sejalan dengan prinsip teori organisasi modern yang menekankan pada koordinasi lintas
fungsi dan sistem terbuka, di mana seluruh
bagian organisasi bekerja secara sinergis menghadapi tantangan lingkungan
eksternal.[32]
3.
Budaya Organisasi
Islami yang Berwawasan Lingkungan
Budaya
organisasi merupakan sistem nilai, keyakinan, dan norma yang membentuk perilaku
anggota lembaga. Dalam lembaga pendidikan Islam, budaya organisasi yang
berwawasan lingkungan dapat dibangun melalui internalisasi nilai-nilai Islam
ekologis seperti tawazun (keseimbangan), qana’ah (kesederhanaan), dan mas’uliyyah (tanggung jawab).
Menurut Hafidhuddin dan
Tanjung (2021), penerapan budaya lingkungan
Islami harus dimulai dari pimpinan lembaga sebagai teladan dalam penghematan
energi, pengelolaan sampah, serta penggunaan sumber daya yang berkeadilan.[33]
Keteladanan pimpinan dalam menjaga kebersihan dan mengelola fasilitas secara
efisien menciptakan organizational climate yang mendukung perilaku ramah lingkungan di kalangan guru dan
peserta didik.
Empirinya
terlihat pada Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, yang mengembangkan budaya “Pesantren
Hijau” dengan prinsip green
economy dan eco-pesantren. Setiap santri diajarkan untuk menanam pohon, mengelola sampah
organik, dan menghemat air sebagai bagian dari praktik ibadah. Program ini
tidak hanya membentuk kebiasaan ekologis, tetapi juga memperkuat nilai
spiritual bahwa menjaga alam adalah bentuk amal
jariyah.[34]
Budaya semacam
ini memperkuat konsep learning organization, di mana lembaga terus belajar dan beradaptasi terhadap isu
lingkungan global sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
4.
Kurikulum dan Pembelajaran Berbasis
Lingkungan Islami
Selain struktur
dan budaya, kurikulum juga berperan penting dalam integrasi nilai lingkungan.
Pendidikan Islam modern dapat mengembangkan kurikulum integratif, yang memadukan antara ilmu agama, sains, dan kesadaran ekologis.
Sebagai contoh, pembelajaran tafsir tematik dapat dikaitkan dengan ayat-ayat kauniyah yang menjelaskan tentang
ciptaan alam, air, dan tumbuhan, sehingga peserta didik memahami keterkaitan
antara iman dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Menurut UNESCO (2021), pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for
Sustainable Development/ESD) harus diadaptasi ke dalam konteks lokal, termasuk
melalui pendekatan keagamaan yang relevan.[35]
Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam dapat berperan sebagai model institution dalam
pengembangan pendidikan lingkungan yang berakar pada nilai keislaman.
Salah satu
praktik baik dapat ditemukan pada Sekolah Alam Insan Mandiri Depok, yang menggabungkan metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan
prinsip tauhid. Setiap proyek lingkungan, seperti pembuatan taman herbal atau
sistem irigasi sederhana, dikaitkan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis.[36]
Integrasi semacam ini menciptakan sinergi antara cognitive
learning (pengetahuan), affective learning (nilai), dan psychomotor learning (aksi nyata).
5.
Tantangan dan Prospek Integrasi Nilai
Lingkungan dalam Lembaga Pendidikan Islam Modern
Meski konsep
integrasi lingkungan dan Islam memiliki potensi besar, penerapannya masih
menghadapi beberapa tantangan. Pertama, lemahnya kesadaran ekologis di kalangan
pendidik dan pengelola lembaga. Kedua, keterbatasan sarana dan dukungan
kebijakan dari pemerintah dalam mendukung program green
education di sekolah Islam. Ketiga, masih minimnya
kajian keislaman yang mengembangkan paradigma ekoteologis secara sistematis
dalam kurikulum pendidikan.
Namun demikian,
peluang pengembangannya cukup besar. Perubahan paradigma pendidikan global yang
mengedepankan sustainability
membuka ruang bagi lembaga pendidikan Islam untuk menjadi pionir dalam
mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dan ekologi. Dengan mengadaptasi teori
organisasi struktural modern—yang menekankan efisiensi, adaptabilitas, dan
sistem terbuka—LPI dapat membangun tata kelola yang tidak hanya modern dan
rasional, tetapi juga berjiwa spiritual dan berwawasan ekologis.
Sebagaimana
ditegaskan oleh Abdullah (2022),
keberhasilan lembaga pendidikan Islam di masa depan bergantung pada
kemampuannya menyeimbangkan rasionalitas manajerial dengan kesadaran ekologis
yang bersumber dari spiritualitas Islam.[37]
Maka, integrasi nilai lingkungan dalam struktur dan budaya organisasi lembaga
pendidikan Islam bukan sekadar inovasi administratif, melainkan transformasi
paradigmatik menuju pendidikan Islam yang
holistik, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh makhluk.
D. Model
Implementasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Lingkungan dalam Perspektif
Teori Struktural Modern
Model
implementasi lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan dalam kerangka teori organisasi
struktural modern merupakan upaya untuk
menggabungkan pendekatan manajerial rasional dengan nilai-nilai spiritual dan
ekologis. Teori organisasi struktural modern menekankan pada efisiensi,
hierarki fungsional, koordinasi sistemik, serta adaptasi terhadap lingkungan
eksternal.[38]
Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, teori ini tidak hanya dimaknai secara
teknokratis, tetapi juga secara normatif—yakni sebagai mekanisme kelembagaan
yang berlandaskan nilai amanah, syura’
(musyawarah), dan maslahah (kemaslahatan umum).
Model
implementasi tersebut dapat diuraikan ke dalam beberapa komponen utama: (1) desain
struktural organisasi yang adaptif, (2) sistem
manajemen berbasis nilai Islam dan lingkungan,
(3) kepemimpinan partisipatif dan spiritual, serta (4) mekanisme pengendalian dan evaluasi berbasis
keberlanjutan. Keempat komponen ini membentuk
sebuah model kelembagaan yang mampu merespons tantangan modernitas sekaligus
menjaga kelestarian nilai-nilai keislaman dan lingkungan hidup.
1.
Desain Struktural Organisasi yang Adaptif
dan Berkelanjutan
Dalam
perspektif teori struktural modern, struktur organisasi yang baik harus mampu
menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan dan kebutuhan stakeholder.[39]
Mintzberg (2018) menjelaskan bahwa
organisasi yang efektif adalah organisasi yang memiliki fit antara desain struktural dan
tuntutan lingkungan.[40]
Dalam konteks lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan, desain struktural
harus memungkinkan integrasi antara fungsi-fungsi akademik, sosial, dan
ekologis secara sistematis.
Sebagai contoh,
Pesantren Modern Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, mengembangkan model organisasi yang memasukkan unit agroedukasi sebagai bagian dari
struktur formal pesantren.[41]
Unit ini bertanggung jawab atas pembelajaran pertanian berkelanjutan,
pengolahan hasil panen, serta pendidikan ekonomi berbasis syariah bagi santri.
Secara struktural, unit tersebut berada di bawah koordinasi Wakil Pimpinan
Bidang Kemandirian, yang berkolaborasi dengan guru sains dan ekonomi Islam.
Dengan cara ini, struktur organisasi tidak hanya mengatur pembagian tugas
administratif, tetapi juga menghubungkan pendidikan, ekonomi, dan pelestarian
lingkungan.
Model ini
sejalan dengan prinsip “integrated structural design”, di mana setiap fungsi organisasi berkontribusi terhadap tujuan
ekologis dan spiritual lembaga. Pendekatan ini menegaskan bahwa efektivitas
organisasi tidak hanya diukur dari efisiensi operasional, tetapi juga dari
kontribusinya terhadap keseimbangan sosial dan lingkungan.
2.
Sistem Manajemen Berbasis Nilai Islam dan
Lingkungan
Teori
organisasi struktural modern memandang manajemen sebagai mekanisme koordinasi
yang bertujuan mencapai efisiensi. Namun, dalam konteks lembaga pendidikan
Islam berbasis lingkungan, efisiensi harus disertai dengan dimensi nilai dan
etika. Sistem manajemen yang dikembangkan perlu berbasis pada nilai-nilai Islam
ekologis seperti ihsan, amanah, adl (keadilan), dan tawazun (keseimbangan).
Sebagai contoh,
Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri Depok
mengimplementasikan manajemen lingkungan dengan pendekatan eco-Islamic management, di mana
setiap kebijakan sekolah harus mempertimbangkan dampaknya terhadap
keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial.[42]
Sistem pengelolaan energi, penggunaan kertas, dan pengelolaan air diatur dalam Standard Operating Procedure (SOP)
berbasis syariah, termasuk kewajiban menjaga kebersihan sebagai bagian dari
iman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Kebersihan
adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim).
Penerapan
manajemen semacam ini mencerminkan prinsip “green bureaucracy” dalam teori organisasi modern, di mana lembaga mengintegrasikan
standar administratif rasional dengan tujuan keberlanjutan lingkungan.[43]
Dengan demikian, sistem manajemen Islam modern tidak hanya mengatur proses
kerja secara efisien, tetapi juga menjadi wahana pembentukan karakter ekologis.
3.
Kepemimpinan Partisipatif dan Spiritual
(Spiritual-Structural Leadership)
Aspek
kepemimpinan merupakan elemen sentral dalam teori organisasi modern. Daft (2021) menegaskan bahwa pemimpin yang efektif tidak hanya mengatur
struktur dan sumber daya, tetapi juga mampu membangun komitmen moral dan budaya
organisasi.[44]
Dalam lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan, model kepemimpinan yang
ideal adalah kepemimpinan partisipatif-spiritual, yakni perpaduan antara gaya kepemimpinan demokratis,
transformasional, dan berbasis nilai-nilai keislaman.
Pemimpin
lembaga pendidikan Islam perlu menjalankan fungsi ganda: sebagai manager (pengelola sistem) dan murabbi (pembimbing moral dan
spiritual). Dalam praktiknya, kepemimpinan spiritual ini memfasilitasi
partisipasi aktif seluruh anggota organisasi dalam menjaga lingkungan,
mengembangkan inovasi pembelajaran hijau, serta mengelola sumber daya alam
secara berkelanjutan.
Contoh
penerapan model ini dapat dilihat pada Madrasah Aliyah Amanatul Ummah
Mojokerto, yang dipimpin oleh figur kiai
sekaligus manajer profesional.[45]
Kepala madrasah melibatkan guru dan santri dalam pengambilan keputusan melalui
forum musyawarah rutin, sekaligus mengarahkan seluruh kebijakan pada
nilai-nilai Islam ekologis. Pemimpin semacam ini bukan hanya simbol otoritas
formal, tetapi juga penggerak budaya organisasi yang berkeadilan dan
berkelanjutan.
Model
kepemimpinan tersebut memperkuat teori “spiritual structuralism”, yaitu bahwa struktur organisasi yang ideal adalah struktur yang
dihidupi oleh nilai spiritual dan partisipasi kolektif.[46]
4.
Mekanisme Pengendalian dan Evaluasi Berbasis
Keberlanjutan
Teori
organisasi struktural modern menekankan pentingnya sistem pengendalian dan
evaluasi kinerja berbasis data. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, sistem
ini perlu dikembangkan untuk menilai tidak hanya aspek administratif dan
akademik, tetapi juga dimensi lingkungan dan nilai keislaman.
Sebagai contoh,
Lembaga Pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Al-Hikmah Surabaya menerapkan Green Performance
Evaluation System (GPES), yaitu sistem evaluasi
yang menilai kinerja lembaga berdasarkan empat indikator: efisiensi energi,
partisipasi siswa dalam kegiatan lingkungan, inovasi pembelajaran hijau, dan
keterlibatan komunitas.[47]
Evaluasi dilakukan secara berkala oleh tim khusus yang bertanggung jawab kepada
kepala sekolah.
Mekanisme
pengendalian ini tidak hanya mencerminkan prinsip “management by
objective” sebagaimana dijelaskan oleh Peter Drucker
(2019), tetapi juga memperluasnya menjadi “management by
value”, di mana nilai-nilai Islam menjadi
tolok ukur keberhasilan lembaga.[48]
Dengan demikian, struktur organisasi modern dalam lembaga pendidikan Islam
berfungsi sebagai alat transformasi menuju keberlanjutan spiritual, sosial, dan
ekologis.
5.
Sinergi antara Struktur Modern dan
Spiritualitas Islam: Sebuah Model Integratif
Dari berbagai
temuan di atas, dapat dirumuskan sebuah model konseptual yang menggambarkan
sinergi antara teori struktural modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan
berbasis lingkungan. Model ini dikenal sebagai “Eco-Islamic Structural Model”, yang memiliki empat dimensi utama:
1.
Struktur Rasional dan Terintegrasi: menekankan efisiensi, pembagian kerja, dan koordinasi antarfungsi
dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem.
2.
Budaya Islami dan Etika Lingkungan: membangun organizational culture yang berlandaskan pada akhlak mulia dan kesadaran ekologis.
3.
Kepemimpinan Spiritual-Transformasional: menggabungkan peran manajerial dengan pembinaan moral dan
lingkungan.
4.
Evaluasi Berkelanjutan: mengukur keberhasilan lembaga berdasarkan kinerja akademik,
spiritual, dan ekologis.
Model ini
bersifat dinamis dan dapat diterapkan pada berbagai tipe lembaga pendidikan
Islam—mulai dari madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi Islam. Fitriyani (2023) menegaskan bahwa keberhasilan implementasi model tersebut
bergantung pada kemampuan lembaga menyeimbangkan rational
system dan natural
system dalam kerangka tauhid.[49]
Secara
konseptual, model integratif ini merepresentasikan bentuk baru organisasi
pendidikan Islam yang modern, ekologis, dan teosentris, di mana seluruh aktivitas kelembagaan diarahkan untuk menciptakan
keberlanjutan hidup manusia dan alam dalam bingkai keimanan.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil kajian dan analisis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa teori organisasi struktural modern memiliki relevansi yang kuat terhadap pengembangan dan tata kelola
lembaga pendidikan Islam berbasis lingkungan. Teori ini menekankan
rasionalisasi struktur organisasi, efisiensi birokrasi, serta adaptasi terhadap
perubahan lingkungan, yang kesemuanya sejalan dengan prinsip-prinsip Islam dalam
hal keteraturan (tanzhim), tanggung jawab (amanah), dan keberlanjutan (istidamah).
Dalam konteks
lembaga pendidikan Islam, penerapan teori struktural modern terlihat melalui
pembentukan sistem organisasi yang terstruktur, adaptif, dan
berbasis nilai, di mana fungsi-fungsi
manajerial seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan
dijalankan secara profesional namun tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Misalnya, penerapan sistem eco-school di madrasah atau pesantren menunjukkan bahwa prinsip rasionalitas
dan efisiensi dapat berjalan beriringan dengan nilai spiritual dan tanggung
jawab ekologis.
Selain itu,
integrasi nilai-nilai lingkungan dalam struktur dan budaya lembaga pendidikan
Islam menegaskan bahwa teori struktural modern bukan sekadar kerangka
teknokratis, melainkan dapat menjadi paradigma transformatif yang membentuk perilaku organisasi menuju keseimbangan antara aspek
spiritual, sosial, dan ekologis. Dalam praktiknya, lembaga pendidikan Islam
berbasis lingkungan mampu menjadi model institusi pembelajaran yang
mengedepankan etika ekologis, partisipasi komunitas, dan tata kelola berkelanjutan
sesuai dengan misi rahmatan lil ‘alamin.
Secara
keseluruhan, model implementatif lembaga pendidikan Islam
berbasis lingkungan dalam perspektif teori
struktural modern meliputi tiga pilar utama: (1) struktur adaptif dan
fungsional, (2) budaya organisasi Islami-ekologis, dan (3) sistem operasional
berkelanjutan. Ketiganya membentuk kesatuan sistem yang memungkinkan lembaga
pendidikan Islam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran, pusat
dakwah, dan pusat penggerak perubahan sosial berbasis lingkungan. Dengan
demikian, teori struktural modern bukan hanya relevan dalam konteks organisasi
sekuler, tetapi juga mampu memperkuat tata kelola lembaga pendidikan Islam di
era modern yang dihadapkan pada tantangan globalisasi dan krisis ekologis.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Baihaqi. “Eco-Leadership dalam Manajemen Pesantren: Studi
Model Kepemimpinan Hijau di Indonesia.” Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam 7, no. 1 (2024):
90–102.
Ahmad Syafii Maarif. Islam dan Tantangan
Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2019.
Charles Perrow. Complex Organizations:
A Critical Essay. Stanford: Stanford University
Press, 2018.
Jeffrey Pfeffer. Understanding
Organizations: Theory and Practice. New York:
Oxford University Press, 2020.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Madrasah
Adiwiyata dan Implementasi Kurikulum Hijau.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2022.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Panduan Program Adiwiyata Sekolah Islam. Jakarta: KLHK, 2021.
Nurhayati dan Zulkifli Hasan. “Eco-Islamic School Management:
Structural Model and Religious Values Integration.” Journal of Islamic Education Studies 8, no. 2 (2023): 120–140.
Pesantren Daarut Tauhiid. Laporan
Program Pesantren Hijau. Bandung: Daarut Tauhiid
Press, 2022.
Richard W. Scott. Organizations:
Rational, Natural, and Open Systems. London:
Routledge, 2019.
Scott, W. Richard, dan Gerald F. Davis. Organizations
and Organizing: Rational, Natural, and Open System Perspectives. London: Routledge, 2021.
Zainuddin Maliki. Kepemimpinan Pendidikan
Islam dan Etika Lingkungan. Surabaya: UIN Sunan
Ampel Press, 2020.
[1] Mulyana, R. (2019). Pendidikan
Islam dan Etika Lingkungan: Perspektif Rahmatan lil ‘Alamin. Jakarta:
Kencana.
[2] Scott, W. R., &
Davis, G. F. (2016). Organizations and Organizing: Rational, Natural, and
Open Systems Perspectives. New York: Routledge.
[3] Daft, R. L. (2021). Organization
Theory and Design. Boston: Cengage Learning.
[4] Yusuf, M., & Karim,
S. (2023). “Integrating Environmental Awareness into Islamic Educational
Institutions.” International Journal of Green Education, 4(1), 22–35.
[5] Hidayat, A. (2020). Eco-Pesantren:
Model Pendidikan Lingkungan di Pesantren Modern. Bandung: Alfabeta.
[6] Weber, M. (1947). The
Theory of Social and Economic Organization. New York: Free Press.
[7] Katz, D., & Kahn,
R. L. (1978). The Social Psychology of Organizations. New York: Wiley.
[8] Daft, R. L. (2021). Organization
Theory and Design. Boston: Cengage Learning.
[9] Weber, M., op. cit.,
hlm. 88.
[10] Katz & Kahn, op.
cit., hlm. 45.
[11] Scott, W. R., &
Davis, G. F. (2016). Organizations and Organizing: Rational, Natural, and
Open Systems Perspectives. New York: Routledge.
[12] Robbins, S. P., &
Coulter, M. (2022). Management. 15th ed. New Jersey: Pearson.
[13] Daft, op. cit.,
hlm. 64.
[14] Schein, E. H. (2017). Organizational
Culture and Leadership. San Francisco: Jossey-Bass.
[15] Jones, G. R. (2019). Organizational
Theory, Design, and Change. Upper Saddle River: Pearson.
[16] Owens, R. G., &
Valesky, T. C. (2020). Organizational Behavior in Education: Leadership and
School Reform. New York: Pearson.
[17] Hidayat, A. (2020). Eco-Pesantren:
Model Pendidikan Lingkungan di Pesantren Modern. Bandung: Alfabeta.
[18] Rahman, A. (2022).
“Modern Structural Organization Theory and Environmental Adaptation.” Journal
of Islamic Education Management, 7(2), 145–160
[19] Daft, R. L. (2021). Organization
Theory and Design. Cengage Learning.
[20] Mintzberg, H. (2018). Structure
in Fives: Designing Effective Organizations. Pearson Education.
[21] Weber, M. (2019). Economy
and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of
California Press.
[22] Supriyadi, A. (2021).
“Manajemen Mutu Terpadu pada Pesantren Modern Daar El-Qolam.” Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam, 6(2), 145–159.
[23] Katz, D., & Kahn,
R. L. (2020). The Social Psychology of Organizations. Wiley.
[24] Fitriyah, N. (2022).
“Implementasi Pendidikan Berbasis Lingkungan di Sekolah Islam Terpadu.” Jurnal
Pendidikan dan Ekologi Islam, 4(1), 55–70.
[25] Robbins, S. P., &
Judge, T. A. (2019). Organizational Behavior. Pearson.
[26] Hassan, M., & Nor,
N. (2020). “Islamic Organizational Culture and Leadership: Integrating Faith
and Management.” International Journal of Islamic Management Studies,
2(1), 1–12.
[27] Handoko, T. H. (2022). Manajemen
Personalia dan Organisasi. BPFE Yogyakarta.
[28] Fien, J., &
Tilbury, D. (2020). Education for Sustainability: Principles and Practices.
Routledge.
[29] Departemen Agama RI.
(2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan
Mushaf Al-Qur’an.
[30] Nasr, S. H. (2019). Man
and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Kazi Publications.
[31] Rahman, F. (2021).
“Model Manajemen Adiwiyata di Madrasah: Studi Kasus MTsN 1 Sleman.” Jurnal
Pendidikan Islam dan Lingkungan, 5(2), 77–91.
[32] Daft, R. L. (2021). Organization
Theory and Design. Cengage Learning.
[33] Hafidhuddin, D., &
Tanjung, H. (2021). Etika Bisnis dan Manajemen Islami. Gema Insani.
[34] Wulandari, R. (2022).
“Pesantren Hijau dan Ekopedagogi Islam: Studi Empiris di Pondok Pesantren Darul
Ulum Jombang.” Jurnal Ekoteologi Islam, 3(1), 45–60.
[35] UNESCO. (2021). Education
for Sustainable Development Roadmap. Paris: UNESCO Publishing.
[36] Hidayat, A. (2022).
“Integrasi Pendidikan Islam dan Ekologi dalam Model Sekolah Alam.” Jurnal
Pendidikan Islam Indonesia, 7(3), 221–237.
[37] Abdullah, A. (2022).
“Ekoteologi dan Paradigma Baru Pendidikan Islam Berkelanjutan.” Jurnal
Pemikiran Islam Kontemporer, 10(2), 101–118.
[38] Robbins, S. P., &
Judge, T. A. (2019). Organizational Behavior. Pearson.
[39] Daft, R. L. (2021). Organization
Theory and Design. Cengage Learning.
[40] Mintzberg, H. (2018). Structure
in Fives: Designing Effective Organizations. Pearson Education.
[41] Mulyani, E. (2022).
“Integrasi Pendidikan Islam dan Pertanian Berkelanjutan di Pesantren
Al-Ittifaq.” Jurnal Pendidikan Islam dan Kearifan Lokal, 5(2),
143–160.
[42] Rahmah, A. (2021).
“Implementasi Manajemen Lingkungan Berbasis Islam di Sekolah Islam Terpadu
Nurul Fikri.” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(1), 33–47.
[43] Greenleaf, R. (2020). Servant
Leadership and Organizational Ecology. Harvard University Press.
[44] Daft, R. L. (2021). Organization
Theory and Design. Cengage Learning.
[45] Syaifuddin, A. (2022).
“Kepemimpinan Spiritual dalam Pengembangan Madrasah Modern.” Jurnal
Pendidikan Islam Indonesia, 6(3), 210–228.
[46] Yukl, G. (2020). Leadership
in Organizations. Pearson.
[47] Lestari, N. (2023).
“Evaluasi Berbasis Lingkungan di Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah Surabaya.” Jurnal
Evaluasi Pendidikan Islam, 4(1), 65–82.
[48] Drucker, P. (2019). Management:
Tasks, Responsibilities, Practices. HarperCollins.
[49] Fitriyani, H. (2023).
“Eco-Islamic Structural Model dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam
Berkelanjutan.” Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ekologi Islam, 8(1),
55–70.

0 Komentar