KEPEMIMPINAN, REKONSILIASI, DAN PERSATUAN BANGSA MELALUI OLAHRAGA: ANALISIS FILM INVICTUS



KEPEMIMPINAN, REKONSILIASI, DAN PERSATUAN BANGSA MELALUI OLAHRAGA: ANALISIS FILM INVICTUS

 

Trian Hermawan

Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya

 

ABSTRAK

Makalah ini menganalisis representasi kepemimpinan, rekonsiliasi, dan pembentukan identitas nasional dalam film Invictus. Fokus analisis diarahkan pada bagaimana Nelson Mandela, sebagaimana direpresentasikan dalam film, memanfaatkan olahraga — khususnya rugby — sebagai simbol politik rekonsiliatif pasca-apartheid. Penelitian menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif dengan memadukan kerangka teori kepemimpinan transformasional, servant leadership, kepemimpinan moral, rekonsiliasi sosial, serta teori representasi media. Hasil analisis menunjukkan bahwa film membingkai Mandela sebagai pemimpin moral–visioner yang mengintegrasikan nilai etis, pelayanan publik, dan strategi simbolik. Olahraga digambarkan sebagai ruang emosional yang mampu menjembatani jarak psikologis antarwarga dan membangun rasa kebersamaan nasional. Namun, film juga menyederhanakan kompleksitas rekonsiliasi dengan memusatkan narasi pada figur heroik dan momen olahraga, sementara dimensi keadilan struktural dan ekonomi kurang dieksplorasi. Temuan ini menegaskan bahwa film bukan sekadar cermin realitas, melainkan teks budaya yang berperan aktif membentuk cara pandang publik terkait kepemimpinan, konflik, dan persatuan bangsa. Implikasi penelitian relevan bagi pendidikan kepemimpinan, pembelajaran rekonsiliasi sosial, dan penguatan literasi media di masyarakat multikultural.

 

Kata kunci: kepemimpinan, rekonsiliasi, olahraga, Nelson Mandela, identitas nasional, Invictus

 

 

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kepemimpinan merupakan elemen fundamental dalam menentukan arah perjalanan suatu bangsa, terutama pada saat bangsa tersebut berada pada fase transisi sosial dan politik yang penuh ketidakpastian. Pada masa seperti ini, kebijakan dan tindakan pemimpin tidak hanya dipahami sebagai keputusan administratif, tetapi juga sebagai intervensi simbolik yang memengaruhi memori kolektif dan identitas masyarakat. Afrika Selatan merupakan salah satu contoh nyata dari situasi tersebut. Setelah dekade panjang yang diwarnai oleh apartheid, negara ini memasuki fase baru yang di dalamnya ketidaksetaraan, luka sejarah, dan trauma masih membekas dalam kehidupan sehari-hari warganya. Apartheid bukan sekadar kebijakan politik; ia adalah sistem yang secara legal menginstitusionalisasi segregasi rasial dan merusak struktur sosial, sehingga meninggalkan dampak psikologis yang dalam bagi generasi berikutnya (Giliomee, 2010). Oleh sebab itu, ketika rezim apartheid runtuh, proses membangun kembali kepercayaan sosial menjadi tugas yang amat berat.

Dalam kondisi tersebut, Nelson Mandela muncul sebagai figur sentral yang memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutan bangsa. Ketika ia dilantik sebagai presiden pada tahun 1994, ia menghadapi persoalan kompleks yang tidak hanya bersifat politik, tetapi juga moral dan sosial. Mandela menyadari bahwa memaksakan keadilan retributif secara keras berpotensi memancing konflik baru dan memperpanjang siklus kebencian. Sebaliknya, ia memilih jalan rekonsiliasi yang menekankan perdamaian, dialog, dan pengampunan sebagai dasar penyatuan bangsa. Film Invictus menggambarkan pilihan strategis ini dengan menampilkan bagaimana Mandela menggunakan olahraga — khususnya rugby — sebagai medium simbolik untuk membangun kebanggaan nasional. Keputusan untuk mempertahankan Springboks, yang semula identik dengan kaum kulit putih, mencerminkan keberanian politik sekaligus kepercayaan bahwa simbol dapat ditafsirkan ulang secara konstruktif.

Pendekatan Mandela sejalan dengan pandangan bahwa simbol publik memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran kolektif suatu masyarakat. Ketika simbol-simbol lama dihapus secara paksa, masyarakat yang terkait dengan simbol tersebut mungkin merasa kehilangan identitas. Namun, ketika simbol-simbol tersebut ditafsirkan kembali secara inklusif, maka simbol dapat menjadi jembatan persatuan. Di sinilah terlihat bagaimana kepemimpinan bergerak melampaui ruang politik formal dan masuk ke ranah imajinasi sosial. Bass dan Riggio (2006) menegaskan bahwa pemimpin transformasional mampu menginspirasi pengikutnya melalui visi masa depan yang memberi makna pada pengalaman kolektif. Mandela, dalam film, diposisikan sebagai figur yang mampu memaknai ulang pengalaman traumatik bangsa menjadi energi harapan.

Dengan demikian, menganalisis film Invictus tidak hanya berarti membaca narasi sejarah yang digambarkan ulang melalui medium sinema. Lebih dari itu, analisis ini merupakan upaya untuk melihat bagaimana media membingkai kepemimpinan, mengonstruksi narasi rekonsiliasi, dan membentuk persepsi tentang apa yang dimaksud dengan menjadi bangsa. Media, dalam hal ini film, memiliki kekuatan untuk menyederhanakan realitas yang kompleks, sekaligus memproduksi makna tertentu yang dapat memengaruhi pemahaman publik mengenai sejarah dan politik.

Kajian-kajian akademik mengenai apartheid, Nelson Mandela, dan rekonsiliasi Afrika Selatan tergolong kaya dan beragam. Banyak penelitian menyoroti dimensi politik transisi kekuasaan, peran Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, serta agenda kebijakan ekonomi pasca-apartheid. Meskipun demikian, terdapat celah riset yang signifikan. Sebagian besar penelitian yang ada masih memfokuskan perhatian pada analisis historis, hukum transisional, serta dinamika politik formal. Relatif sedikit penelitian yang secara khusus mengkaji film — terutama Invictus — sebagai medium yang membentuk persepsi tentang sejarah dan kepemimpinan. Padahal, film sering kali menjadi sumber utama bagi publik dalam memahami masa lalu.

Selain itu, kajian sebelumnya cenderung menempatkan Mandela sebagai tokoh politik yang bersifat hampir mitologis, tanpa melihat bagaimana narasi kepemimpinan tersebut dibentuk dan diperkuat melalui media budaya populer. Dengan kata lain, penelitian yang memadukan analisis kepemimpinan, rekonsiliasi, olahraga, dan representasi media masih sangat terbatas. Padahal, seperti ditegaskan Hall (1997), media merupakan arena penting di mana makna diproduksi, dinegosiasikan, dan disebarluaskan. Oleh sebab itu, membahas Invictus sebagai teks budaya memungkinkan kita memahami bagaimana ide tentang kepemimpinan moral dan persatuan bangsa dikonstruksi, bukan hanya diceritakan ulang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan celah penelitian tersebut, pertanyaan utama dalam makalah ini adalah:

1.       Bagaimana kepemimpinan Nelson Mandela direpresentasikan dalam film Invictus?

2.       Bagaimana olahraga dibingkai sebagai medium rekonsiliasi nasional dalam film?

3.       Sejauh mana film ini memperkaya atau menyederhanakan pemahaman tentang rekonsiliasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini dirancang untuk menggali dimensi simbolik, naratif, dan politis yang bekerja di dalam film.

1.3 Tujuan Penelitian

Makalah ini bertujuan untuk:

1.       menganalisis konstruksi naratif, simbolik, dan visual dalam film Invictus;

2.       menjelaskan bagaimana kepemimpinan dan rekonsiliasi direpresentasikan melalui medium olahraga;

3.       menilai peran film sebagai teks budaya yang membentuk pemahaman publik terhadap kepemimpinan dan persatuan bangsa.

Dengan demikian, penelitian ini tidak semata-mata bertujuan mendeskripsikan film, melainkan juga menempatkannya dalam diskursus ilmiah yang lebih luas.

1.4 Manfaat Penelitian

Secara teoretis, penelitian ini memperluas horizon kajian interdisipliner yang mengaitkan kepemimpinan, rekonsiliasi, olahraga, dan media. Penelitian ini juga memberikan pemahaman bahwa kepemimpinan harus dipahami bukan hanya sebagai tindakan politik rasional, tetapi juga sebagai konstruksi simbolik yang beroperasi di ruang budaya. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan refleksi dalam pendidikan kepemimpinan dan literasi media. Di sisi lain, bagi masyarakat luas, makalah ini diharapkan membantu meningkatkan kesadaran kritis dalam membaca narasi rekonsiliasi yang diproduksi media.

 

PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan transformasional menempati posisi strategis dalam diskursus kepemimpinan modern karena menawarkan perspektif yang memandang kepemimpinan sebagai proses perubahan mendasar, bukan sekadar aktivitas administratif. Model ini memandang pemimpin sebagai agen transformasi yang berperan mengubah nilai, keyakinan, dan orientasi kolektif melalui inspirasi, keteladanan, dan pembingkaian visi yang bermakna. Bass dan Riggio (2006) menekankan bahwa inti kepemimpinan transformasional terletak pada kemampuan membangkitkan motivasi intrinsik, sehingga pengikut merasa terlibat dalam proyek besar yang melampaui kepentingan pribadi. Empat dimensi utama — pengaruh ideal (idealized influence), motivasi inspirasional (inspirational motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan perhatian individual (individualized consideration) — menunjukkan bahwa kepemimpinan efektif menyentuh aspek rasional dan emosional secara bersamaan. Dalam konteks Invictus, representasi Mandela memperlihatkan kemampuan membangkitkan optimisme nasional di tengah trauma sejarah. Mandela tidak memaksakan loyalitas melalui instrumen koersif; sebaliknya, ia menanamkan keyakinan bahwa masa depan Afrika Selatan dapat dibangun di atas persatuan dan keadilan. Dengan demikian, film menampilkan bahwa transformasi sosial bukan dimulai dari kebijakan teknokratis semata, melainkan dari perubahan kesadaran kolektif yang digerakkan oleh figur pemimpin yang visioner.

Lebih jauh lagi, kepemimpinan transformasional memfasilitasi proses rekonstruksi makna atas pengalaman masa lalu. Masyarakat pascakonflik sering kali hidup dalam bayang-bayang memori traumatik yang membentuk rasa saling curiga. Pemimpin transformasional hadir untuk menafsirkan ulang memori tersebut sebagai pelajaran, bukan sumber dendam. Dalam film, Mandela mencontohkan strategi ini dengan mengajak masyarakat kulit hitam untuk melihat Springboks tidak lagi sebagai simbol penindasan, melainkan sebagai ruang kemungkinan persatuan. Strategi ini menunjukkan bahwa perubahan sosial bukan sekadar urusan keputusan politik, tetapi juga proses hermeneutis: bagaimana masyarakat diajak membaca ulang realitas sosialnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Shamir et al. (1998) bahwa kepemimpinan transformasional bekerja dengan membingkai ulang narasi, sehingga tindakan kolektif memperoleh makna moral.

2.1.2 Servant Leadership

Servant leadership menawarkan lensa etis yang berbeda dari paradigma kepemimpinan yang menekankan kontrol dan dominasi. Model ini berakar pada gagasan bahwa kepemimpinan sejati berawal dari komitmen untuk melayani orang lain, terutama mereka yang rentan, termarginalkan, atau kehilangan suara dalam struktur sosial. Greenleaf (1977) menyatakan bahwa pertanyaan utama seorang pemimpin bukanlah “seberapa besar kekuasaan saya?”, melainkan “apakah orang-orang yang saya pimpin menjadi lebih berdaya, lebih merdeka, dan lebih manusiawi?”. Perspektif ini menggeser orientasi kepemimpinan dari kepentingan pribadi menuju kesejahteraan kolektif. Dalam film, Mandela digambarkan selalu menunjukkan kesederhanaan, kesabaran, dan keterbukaan, bahkan terhadap orang-orang yang dahulu menjadi lawan politiknya. Keputusan untuk terus mengunjungi komunitas, mendengar keresahan, dan memberi teladan dalam kesopanan publik menunjukkan orientasi pelayanan yang kuat.

Selain itu, servant leadership menekankan pentingnya empati sebagai komponen penting dalam mengelola luka sosial. Dalam konteks pasca-apartheid, empati memiliki fungsi strategis sebagai jembatan dialog. Mandela tidak sekadar memutuskan dari atas, tetapi memperlakukan para aktor sosial — termasuk aparat lama dan warga kulit putih — sebagai bagian dari bangsa yang harus dirangkul. Morris (2016) menegaskan bahwa kepemimpinan berbasis pelayanan meningkatkan kepercayaan sosial karena publik merasakan kehadiran pemimpin yang tulus. Representasi ini dalam film memperlihatkan dimensi etis kepemimpinan yang tidak dapat digantikan oleh mekanisme institusional semata.

2.1.3 Kepemimpinan Moral

Kepemimpinan moral merupakan konsep yang mengaitkan legitimasi politik dengan integritas etis. Dalam masyarakat yang tengah membangun kembali tatanan, kredibilitas pemimpin tidak hanya diukur dari efektivitas kebijakan, tetapi dari sejauh mana kebijakan tersebut dilandasi pertimbangan moral. Ciulla (2004) menegaskan bahwa kekuasaan tanpa moral berpotensi menjadi alat penindasan baru. Film Invictus menampilkan bagaimana Mandela menghadapi dilema: menuntut keadilan secara keras atau mengutamakan rekonsiliasi. Keputusan menolak balas dendam bukan berarti mengabaikan keadilan; sebaliknya, ia melihat bahwa balas dendam hanya akan memperpanjang lingkaran kebencian. Keberanian untuk memilih pengampunan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk keberanian moral yang jarang ditemukan dalam politik kekuasaan.

Di sisi lain, kepemimpinan moral juga melibatkan konsistensi antara kata dan tindakan. Mandela dalam film digambarkan selalu berusaha menjadi teladan, bahkan dalam hal-hal kecil: disiplin waktu, kesopanan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Hal-hal ini menunjukkan bahwa moralitas bukan sekadar ide abstrak, tetapi praktik hidup yang berkelanjutan. Ketika pemimpin menunjukkan konsistensi moral, masyarakat lebih mudah percaya bahwa rekonsiliasi bukan retorika kosong. Heifetz et al. (2009) menyebutnya sebagai kepemimpinan adaptif: kemampuan membuat keputusan sulit sambil menjaga nilai fundamental kemanusiaan.

2.1.4 Rekonsiliasi Sosial

Rekonsiliasi sosial merupakan proses kompleks yang melibatkan dimensi hukum, sosial, psikologis, dan kultural. Lederach (1997) menggambarkan rekonsiliasi sebagai jembatan antara masa lalu yang penuh luka dengan masa depan yang diharapkan lebih damai. Proses ini tidak dapat dipaksakan secara cepat, karena menyentuh memori, rasa sakit, dan perasaan ketidakadilan yang mendalam. Dalam film, rekonsiliasi tidak ditampilkan sebagai rangkaian prosedur hukum, melainkan melalui simbol-simbol yang menyentuh emosi kolektif. Olahraga menjadi bahasa yang relatif netral, sehingga memungkinkan kelompok yang dahulu bermusuhan untuk berdiri dalam ruang yang sama.

Namun, penting dicatat bahwa rekonsiliasi bukan berarti melupakan sejarah. Hamber (2009) menekankan bahwa penyembuhan hanya mungkin ketika masyarakat berani mengakui masa lalu dan mengolahnya bersama. Film menunjukkan bagaimana Mandela mengakui kesalahan masa lalu, tetapi mengajak bangsanya melangkah maju. Borer (2004) menambahkan bahwa rekonsiliasi sejati memerlukan pengakuan, keadilan restoratif, dan pembangunan relasi baru. Invictus menampilkan sebagian dari dimensi itu melalui simbol olahraga, tetapi realitas rekonsiliasi tentu jauh lebih kompleks daripada yang ditampilkan kamera.

2.1.5 Olahraga dan Identitas Nasional

Olahraga memiliki kedudukan istimewa dalam pembentukan identitas nasional karena menggabungkan emosi, simbol, dan ritual dalam satu pengalaman kolektif. Stadion, lagu kebangsaan, dan warna jersey menjadi perangkat simbolik yang mempersatukan warga di bawah identitas bersama. Smith dan Porter (2010) menjelaskan bahwa olahraga berfungsi sebagai wadah ekspresi nasionalisme yang relatif damai. Dalam film, rugby digambarkan sebagai instrumen yang dapat mengubah hubungan antar ras. Pada awal cerita, Springboks dipandang sebagai simbol eksklusif yang hanya mewakili kelompok kulit putih. Namun, melalui proses reinterpretasi, simbol ini menjadi milik seluruh bangsa.

Kaufman (2012) menegaskan bahwa olahraga sering digunakan sebagai alat politik simbolik. Pemerintah memanfaatkan event olahraga besar untuk membangun legitimasi dan kepercayaan. Dalam Invictus, hal tersebut terlihat ketika Mandela mempromosikan Piala Dunia Rugby sebagai momentum persatuan. Meski demikian, penting diingat bahwa identitas nasional yang dibangun melalui olahraga umumnya bersifat emosional dan temporer. Tanpa dukungan kebijakan keadilan sosial, solidaritas yang lahir dari stadion bisa memudar seiring waktu.

2.1.6 Representasi Media

Media, termasuk film, tidak sekadar merekam kenyataan; media menginterpretasikan, menyusun ulang, dan membingkai realitas sesuai sudut pandang tertentu. Hall (1997) menyebut proses ini sebagai representasi. Dalam konteks Invictus, film membangun citra Mandela sebagai figur heroik dan menggarisbawahi peran olahraga sebagai katalis utama rekonsiliasi. Monaco (2009) menjelaskan bahwa film memiliki kekuatan membangun ilusi keutuhan naratif, padahal kenyataan sosial jauh lebih kompleks. Dengan membaca film secara kritis, penonton dapat membedakan antara narasi sinematik dan realitas historis. Dengan kata lain, film harus dipahami sebagai konstruksi budaya yang membentuk persepsi, bukan sebagai dokumen sejarah final.

2.2 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif, dengan memandang film sebagai teks budaya. Proses analisis dilakukan secara bertahap mulai dari penayangan film berulang, pencatatan adegan penting, transkripsi dialog, hingga open coding. Setiap adegan yang relevan kemudian dipetakan ke dalam kategori tematik yang berhubungan dengan teori kepemimpinan, rekonsiliasi, olahraga, dan representasi media. Untuk menjaga validitas, peneliti menggunakan triangulasi teori, memberikan deskripsi kaya konteks, dan mendokumentasikan proses analisis (Lincoln & Guba, 1985). Dengan demikian, interpretasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

2.3 Hasil Analisis

2.3.1 Warisan Konflik dan Memori Kolektif

Film Invictus memulai narasinya dengan menampilkan Afrika Selatan yang masih bergulat dengan bayang-bayang apartheid. Ketegangan sosial terasa dalam interaksi sehari-hari: rasa saling curiga, ketakutan, dan kegelisahan. Transisi politik tidak otomatis menyembuhkan luka psikologis masyarakat. Hal ini sejalan dengan pandangan Giliomee (2010) bahwa apartheid meninggalkan jejak mendalam dalam struktur sosial. Ketika kekuasaan berganti, trauma masa lalu tidak serta-merta hilang; ia tetap hidup dalam memori kolektif. Kriesberg (2007) menegaskan bahwa konflik sering berubah bentuk menjadi konflik laten yang tersembunyi. Film berhasil menunjukkan bagaimana luka sejarah menjadi hambatan dalam membangun kepercayaan baru.

Dalam konteks ini, rekonsiliasi tidak dapat dipahami hanya sebagai kebijakan elit politik. Rekonsiliasi menyentuh ranah perasaan, harapan, dan ketakutan manusia. Film memperlihatkan bahwa konflik sosial tidak cukup diselesaikan dengan perjanjian damai atau pergantian konstitusi. Dibutuhkan proses panjang yang melibatkan kesediaan untuk mendengar, memaafkan, dan mengakui. Kesadaran ini memberi dasar bahwa setiap kebijakan rekonsiliasi harus memperhatikan dimensi kemanusiaan, bukan sekadar prosedural.

2.3.2 Transformasi Makna Springboks

Salah satu momen simbolik terpenting dalam film adalah keputusan Mandela untuk mempertahankan Springboks. Keputusan tersebut menimbulkan kontroversi karena banyak warga kulit hitam menganggap Springboks sebagai simbol penindasan. Namun, Mandela melihat peluang lain: jika Springboks dihapus, kebencian mungkin semakin kuat; jika dipertahankan dan dimaknai ulang, simbol tersebut dapat menjadi jembatan persatuan. Proses ini menggambarkan transformasi makna simbol sosial, sebagaimana dijelaskan Smith dan Porter (2010). Simbol yang tadinya eksklusif, secara bertahap berubah menjadi simbol nasional.

Anderson (2006) menyebut proses ini sebagai nation-building: membangun komunitas imajiner yang merasa terikat meskipun tidak saling mengenal secara personal. Dalam film, penafsiran ulang Springboks menciptakan rasa kebersamaan baru. Keputusan ini bukan sekadar strategi politik, melainkan langkah untuk mengelola memori kolektif. Mandela menunjukkan bahwa simbol dapat digunakan bukan untuk memecah, tetapi untuk mempersatukan.

2.3.3 Kepemimpinan Rekonsiliatif

Kepemimpinan rekonsiliatif dalam film Invictus tampak melalui cara Mandela memadukan pendekatan moral, politik, dan simbolik dalam satu strategi yang koheren. Mandela tidak hanya berbicara tentang perdamaian, tetapi secara aktif menciptakan kondisi sosial di mana rekonsiliasi menjadi mungkin. Dalam banyak adegan, ia tampak menghindari retorika yang membangkitkan luka lama. Sebaliknya, ia lebih sering menggunakan bahasa yang merangkul, menenangkan, dan memberi harapan. Sikap ini menunjukkan kesadaran bahwa kata-kata pemimpin memiliki dampak psikologis yang sangat besar. Bass dan Riggio (2006) menegaskan bahwa pemimpin transformasional bekerja melalui simbol, narasi, dan inspirasi. Mandela mencontohkannya dengan menekankan nilai inklusivitas, meskipun harus menghadapi kritik dari kelompoknya sendiri.

Lebih jauh lagi, kepemimpinan rekonsiliatif yang digambarkan dalam film memperlihatkan hubungan erat antara keadilan dan pengampunan. Mandela tidak menafikan penderitaan korban apartheid, namun ia menolak menjadikan penderitaan tersebut sebagai dasar balas dendam. Sikap ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang bahaya spiral kebencian. Ciulla (2004) menekankan bahwa kepemimpinan moral harus mampu melihat konsekuensi jangka panjang dari setiap keputusan. Mandela memahami bahwa politik balas dendam mungkin memuaskan sebagian pihak dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menghancurkan fondasi bangsa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kepemimpinan rekonsiliatif selalu menempatkan masa depan bersama di atas kepentingan kelompok tertentu.

Pada saat yang sama, Mandela tidak mengandalkan dirinya sebagai figur tunggal. Ia membangun kepercayaan melalui partisipasi kolektif dan dialog lintas kelompok. Proses ini sejalan dengan pendekatan Lederach (1997) yang memandang rekonsiliasi sebagai proyek sosial jangka panjang yang melibatkan banyak aktor. Invictus menunjukkan bahwa keberhasilan rekonsiliasi bukan hanya hasil dari karisma pemimpin, tetapi juga hasil dari kemampuan pemimpin membangun struktur harapan kolektif yang dapat diakses semua pihak.

2.3.4 Peran François Pienaar sebagai Agen Jembatan

François Pienaar dalam Invictus bukan sekadar kapten tim rugby, melainkan agen jembatan yang memainkan peran kunci dalam mempertemukan visi politik Mandela dengan realitas sosial di lapangan. Pada awal cerita, Pienaar digambarkan sebagai sosok yang patuh pada tradisi kulit putih dan tidak sepenuhnya memahami kompleksitas politik bangsanya. Namun, interaksinya dengan Mandela mengubah cara pandangnya secara perlahan. Dialog antara keduanya memperlihatkan proses transformasi kesadaran: dari kepemimpinan teknis menuju kepemimpinan moral. Pienaar mulai memahami bahwa keberhasilan tim bukan hanya tentang kemenangan olahraga, tetapi tentang harapan bagi seluruh bangsa.

Peran Pienaar memperjelas konsep kepemimpinan kolaboratif. Bryson et al. (2014) menjelaskan bahwa perubahan sosial berskala besar membutuhkan jaringan kepemimpinan lintas sektor. Pemerintah, komunitas olahraga, media, dan masyarakat sipil semuanya memiliki kontribusi. Pienaar adalah figur yang menerjemahkan visi Mandela ke dalam disiplin tim, etos kerja, dan solidaritas di lapangan. Film menampilkan bagaimana ia mulai mendekati para pemain dengan sensitivitas baru, mengajak mereka menyadari bahwa mereka sedang bermain bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh bangsa.

Lebih dari itu, Pienaar menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari jabatan politik. Kepemimpinan dapat berkembang di ruang-ruang sosial lain, termasuk olahraga. Transformasi dirinya menjadi simbol bahwa agen perubahan dapat lahir dari siapa saja yang memiliki kesadaran moral dan komitmen pada kepentingan bersama. Dalam konteks ini, film memperlihatkan bahwa rekonsiliasi merupakan proyek kolektif, bukan milik satu figur heroik semata.

2.3.5 Olahraga sebagai Medium Rekonsiliasi

Olahraga dalam film Invictus digambarkan sebagai ruang di mana identitas nasional dinegosiasikan kembali. Stadion menjadi arena perjumpaan emosional yang mempertemukan kelompok yang sebelumnya saling mencurigai. Ketika pertandingan berlangsung, perbedaan ras, kelas, dan latar belakang untuk sementara melebur dalam rasa kebersamaan. Hal ini selaras dengan pandangan Jarvie (2013) bahwa olahraga dapat menjadi sarana integrasi sosial karena ia menyatukan individu dalam aktivitas kolektif yang sarat simbol. Kemenangan ataupun kekalahan dirasakan bersama, sehingga tercipta pengalaman emosional bersama yang jarang ditemukan di ruang sosial lain.

Namun, film ini juga mengingatkan bahwa olahraga bukan solusi tunggal. Wilson (2001) menyatakan bahwa rekonsiliasi memerlukan keadilan struktural yang nyata. Olahraga hanya mampu menyediakan ruang simbolik, bukan menghapus ketimpangan ekonomi, diskriminasi pendidikan, atau ketidakadilan hukum. Dalam beberapa adegan, terlihat bahwa kebahagiaan sementara di stadion tidak serta-merta menghapus kenyataan pahit sebagian warga. Dengan demikian, Invictus sekaligus mengajarkan bahwa olahraga dapat menjadi katalis, tetapi bukan pengganti reformasi sosial yang lebih mendalam.

Kekuatan olahraga dalam film terletak pada kemampuannya menciptakan “momen simbolik”. Momen-momen tersebut kemudian diingat, dibicarakan, dan dijadikan rujukan dalam pembentukan memori kolektif. Dengan kata lain, olahraga menyediakan bahasa emosional yang dapat menghubungkan warga lintas perbedaan. Namun, bahasa tersebut hanya efektif apabila didukung oleh kepemimpinan yang mampu mengarahkan emosi kolektif menuju tujuan yang konstruktif.

2.3.6 Identitas Nasional Baru

Identitas nasional dalam Invictus tampak sebagai proses yang dinamis, bukan entitas yang sudah selesai. Pada awal film, identitas nasional Afrika Selatan terbelah: sebagian warga merasa sebagai korban, sementara sebagian lainnya merasa terancam kehilangan hak istimewa. Melalui simbol Springboks dan narasi persatuan, film memperlihatkan proses reposisi identitas dari “kami” versus “mereka” menjadi “kita”. Anderson (2006) menyebut bangsa sebagai komunitas imajiner, yang dibangun melalui narasi dan simbol. Film ini menunjukkan bagaimana simbol baru dapat menggantikan luka lama dengan imajinasi baru tentang kebersamaan.

Perubahan identitas tersebut tidak terjadi secara otomatis. Ia membutuhkan waktu, dialog, dan kesediaan untuk membuka diri. Beberapa warga mungkin menerima perubahan dengan cepat, sementara yang lain masih takut atau ragu. Oleh karena itu, identitas nasional yang ditampilkan dalam film lebih tepat dipahami sebagai proses negosiasi berkelanjutan. Proses ini menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa di masa depan.

2.4 Film, Kepemimpinan, dan Politik Representasi

Pembacaan kritis terhadap film Invictus tidak dapat dilepaskan dari kerangka teori representasi media. Film tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga membangun cara pandang tertentu terhadap realitas sosial. Hall (1997) menegaskan bahwa representasi merupakan proses produksi makna melalui bahasa, gambar, dan simbol. Dalam konteks Invictus, bahasa visual digunakan untuk membentuk persepsi publik mengenai Nelson Mandela, rekonsiliasi, dan persatuan bangsa. Adegan-adegan yang menonjolkan keteguhan moral Mandela, misalnya, berfungsi menegaskan citra dirinya sebagai figur pemersatu. Hal ini mengingatkan kita bahwa film sering memusatkan perhatian pada tokoh tertentu dan mengurangi kompleksitas struktural agar lebih mudah diterima penonton.

Lebih jauh, film ini menempatkan Mandela sebagai personifikasi rekonsiliasi. Narasi visual secara konsisten membingkai Mandela sebagai sosok bijak, sabar, dan berjiwa besar. Pembingkaian tersebut tentu memiliki fungsi edukatif: penonton diundang melihat pentingnya kepemimpinan etis. Namun, pada saat yang sama, penyederhanaan narasi dapat terjadi. Rekonsiliasi dalam kenyataan bukan hanya hasil kebijakan seorang pemimpin, melainkan hasil interaksi antara lembaga hukum, masyarakat sipil, gereja, komunitas lokal, serta tekanan internasional (Wilson, 2001). Film tidak selalu menampilkan semua itu secara lengkap.

Pandangan ini memperkuat argumen bahwa pembacaan film harus ditempatkan dalam konteks literasi media. Penonton idealnya tidak menerima apa yang ditampilkan film sebagai “kebenaran tunggal”, tetapi menggunakannya sebagai pintu masuk untuk memahami persoalan sosial lebih luas. Dengan demikian, Invictus dapat menjadi bahan refleksi kritis, bukan sekadar hiburan emosional.

2.5 Ketegangan antara Narasi Heroik dan Realitas Sosial

Salah satu aspek penting yang muncul dari analisis film adalah ketegangan antara narasi heroik dan realitas sosial. Invictus menonjolkan tokoh Mandela sebagai sosok heroik yang mampu mengubah jalannya sejarah melalui sportivitas dan moralitas. Narasi ini memberi inspirasi, tetapi juga berpotensi menutupi kenyataan bahwa rekonsiliasi memerlukan perubahan struktural yang kompleks. Rekonsiliasi tidak hanya terjadi di stadion, tetapi juga di meja perundingan, pengadilan, sekolah, dan komunitas miskin yang mengalami ketidakadilan sistemik.

Kajian rekonsiliasi menunjukkan bahwa keadilan transisional, kebijakan redistribusi ekonomi, dan reformasi hukum merupakan faktor penting dalam membangun perdamaian jangka panjang (Hamber, 2009; Borer, 2004). Film tidak menafikan faktor tersebut, namun lebih memilih fokus pada simbol olahraga. Oleh karena itu, pendekatan kritis diperlukan agar kita dapat melihat peran film sebagai salah satu narasi, bukan keseluruhan cerita.

Di sisi lain, narasi heroik memiliki fungsi pedagogis. Tokoh seperti Mandela memberi contoh bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab moral untuk menahan amarah dan mengedepankan perdamaian. Dalam masyarakat yang tengah mengalami polarisasi, narasi semacam ini tetap relevan. Persoalannya bukan apakah film harus menghapus narasi heroik, tetapi bagaimana kita memahami keterbatasannya.

2.6 Olahraga sebagai Simbol Politik: Kekuatan dan Batasannya

Penggunaan olahraga sebagai alat politik bukanlah fenomena baru. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara menggunakan event olahraga untuk membangun citra nasional, mengurangi ketegangan, atau memperkuat legitimasi politik. Smith dan Porter (2010) menegaskan bahwa olahraga memiliki kemampuan membangkitkan rasa kebersamaan karena ia menyentuh emosi, kebanggaan, dan memori kolektif. Dalam Invictus, sport diposisikan sebagai bahasa universal yang mampu menyeberangi batas rasial.

Namun, kekuatan olahraga tergantung pada konteks sosial dan kebijakan politik yang menyertainya. Jika olahraga hanya dimanfaatkan sebagai propaganda tanpa diikuti kebijakan inklusif, maka identitas kolektif yang terbentuk bisa bersifat sementara. Kaufman (2012) mengingatkan bahwa olahraga dapat pula digunakan untuk memperkuat nasionalisme yang eksklusif. Dengan kata lain, olahraga adalah pisau bermata dua: dapat menyatukan, tetapi juga berpotensi memecah.

Dalam konteks Afrika Selatan pasca-apartheid, Mandela menggunakannya secara strategis. Ia tidak sekadar memanfaatkan Springboks sebagai simbol kesenangan bersama, tetapi mengarahkan simbol tersebut ke arah persatuan. Strategi ini menegaskan bahwa simbol baru hanya efektif jika diiringi arahan moral yang jelas dari pemimpin. Simbol tanpa nilai mudah dimanipulasi; simbol yang dipandu etika memiliki kekuatan transformasional.

2.7 Rekonsiliasi sebagai Proses Psikologis dan Sosial

Rekonsiliasi sosial, sebagaimana dijelaskan Lederach (1997), bukan sekadar kesepakatan politik, tetapi proses psikologis dan relasional yang melibatkan memori, rasa sakit, dan harapan. Film Invictus menampilkan dimensi psikologis rekonsiliasi dalam berbagai adegan kecil. Misalnya, hubungan antara pengawal Mandela dari latar kulit putih dan hitam. Pada awalnya, mereka saling curiga, tetapi seiring waktu bekerja bersama, mereka mulai saling memahami. Adegan sederhana ini memberi pesan bahwa rekonsiliasi dimulai dari hubungan interpersonal.

Pengalaman bersama — menonton pertandingan, menyanyikan lagu kebangsaan, merayakan kemenangan — menjadi bentuk terapi sosial. Individu yang sebelumnya merasa terpisah kini menemukan momen kebersamaan. Namun, proses psikologis seperti ini harus disertai ruang publik yang memungkinkan dialog terbuka dan pengakuan trauma. Tanpa pengakuan, luka sosial bisa kembali terbuka sewaktu-waktu.

Dengan demikian, rekonsiliasi sosial memerlukan kombinasi antara simbol, kebijakan, dan relasi. Film menampilkan satu unsur, tetapi membuka jalan bagi diskusi lebih luas tentang unsur lainnya. Di sinilah nilai edukatif film menjadi penting.

2.8 Peran Media dalam Membangun Memori Kolektif

Media memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat mengingat masa lalu. Film, berita, dan dokumenter membangun arsip simbolik yang mempengaruhi interpretasi generasi berikutnya. Monaco (2009) menegaskan bahwa film bekerja bukan hanya pada tingkat kognitif, tetapi juga emosional. Ketika penonton menonton Invictus, mereka bukan hanya memahami sejarah, tetapi juga merasakannya.

Memori kolektif tentang Mandela sebagai figur pahlawan sebagian dibentuk oleh film seperti ini. Hal tersebut membawa dampak positif karena membantu menghadirkan teladan moral. Namun, sekaligus perlu diingat bahwa memori kolektif yang dibentuk media selalu selektif. Ada bagian yang ditonjolkan dan ada yang diabaikan. Oleh sebab itu, literasi media menjadi bagian penting dari pendidikan kontemporer.

 

2.9 Relevansi Bagi Konteks Multikultural Masa Kini

Pembahasan Invictus tidak berhenti pada Afrika Selatan. Banyak negara saat ini menghadapi polarisasi identitas, konflik etnik, serta tantangan integrasi sosial. Model kepemimpinan rekonsiliatif Mandela memberikan pelajaran bahwa kekuasaan harus dipadukan dengan visi moral. Northouse (2021) menekankan bahwa kepemimpinan efektif selalu mempertimbangkan aspek etika dan kemanusiaan.

Selain itu, film ini mengingatkan bahwa simbol publik harus dikelola dengan hati-hati. Simbol dapat mempersatukan, tetapi juga dapat menjadi alat eksklusi. Oleh karena itu, pemimpin perlu sensitif terhadap dampak kultural dari keputusan yang mereka ambil. Pelajaran ini sangat relevan dalam konteks global saat ini, ketika media sosial mempercepat penyebaran simbol dan narasi politik.

2.10 Kepemimpinan Visioner dan Pengelolaan Risiko Politik

Kepemimpinan visioner bukan sekadar kemampuan merumuskan masa depan ideal, tetapi juga keberanian menghadapi risiko politik yang menyertainya. Dalam konteks Invictus, keputusan Mandela mempertahankan Springboks sebenarnya mengandung potensi resistensi besar dari kelompok kulit hitam yang memandang simbol tersebut sebagai peninggalan rezim penindas. Dengan memilih strategi yang tidak populer, Mandela menunjukkan kemampuan membaca jangka panjang: ia memahami bahwa penghancuran simbol lama mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi akan memperpanjang kebencian antar kelompok. Pemimpin yang visioner, sebagaimana ditegaskan Bass dan Riggio (2006), bekerja pada horizon waktu yang lebih luas, bukan sekadar mengejar dukungan jangka pendek.

Di sini, Mandela menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan politiknya sendiri. Keputusan itu mencerminkan dimensi keberanian moral, karena ia bersedia menghadapi kritik demi tercapainya tujuan persatuan. Dalam perspektif kepemimpinan, tindakan tersebut menunjukkan adanya kombinasi antara intuisi politik, kepekaan moral, dan keterampilan komunikasi yang efektif. Mandela menjelaskan keputusannya kepada publik dengan bahasa yang sederhana, tetapi sarat makna: olahraga dapat menjadi jembatan, bukan tembok. Dengan kata lain, ia mengelola risiko politik melalui narasi persatuan yang persuasif.

2.11 Dialog sebagai Instrumen Kepemimpinan Rekonsiliatif

Salah satu aspek penting dalam kepemimpinan rekonsiliatif adalah kemampuan membangun dialog. Rekonsiliasi tidak mungkin dicapai melalui paksaan. Dialog membuka ruang bagi pengakuan luka, klarifikasi prasangka, dan pembentukan kesepahaman baru. Lederach (1997) menekankan bahwa dialog berfungsi sebagai mekanisme membangun kembali hubungan antarkelompok yang rusak akibat konflik. Dalam Invictus, Mandela digambarkan sering mengundang berbagai pihak untuk berdiskusi: atlet, staf pemerintah, hingga warga biasa.

Adegan-adegan ini memperlihatkan bahwa kehadiran pemimpin dalam ruang dialog memiliki nilai simbolik. Kehadiran fisik Mandela menandakan kesediaannya mendengarkan. Dalam sudut pandang servant leadership, tindakan mendengar merupakan wujud pelayanan (Greenleaf, 1977). Dialog demikian memupuk rasa dihargai dan mengurangi jarak kekuasaan. Selain itu, dialog juga membangun kepercayaan, karena masyarakat melihat pemimpin tidak sekadar memberi instruksi, tetapi juga mengajak bekerja bersama.

2.12 Keteladanan sebagai Instrumen Persuasif

Film menekankan bahwa keteladanan moral memiliki daya persuasi yang kuat. Mandela tidak hanya berbicara tentang persatuan; ia menghidupi nilai tersebut dalam tindakannya sehari-hari. Ia menyapa semua orang, termasuk lawan politiknya. Ia memperlakukan stafnya dengan hormat, tanpa memandang latar belakang ras atau ideologi. Keteladanan ini menciptakan legitimasi moral yang sulit dibantah, karena pesan yang disampaikan selaras dengan perilaku nyata.

Ciulla (2004) menegaskan bahwa moralitas merupakan inti kepemimpinan. Tanpa moralitas, kepemimpinan hanya menjadi alat manipulasi. Ketika pemimpin hidup dalam keteladanan, masyarakat lebih mudah percaya bahwa visi yang mereka sampaikan bukan sekadar retorika. Dalam film, keteladanan Mandela menjadi sumber kredibilitas, yang pada akhirnya memudahkan proses rekonsiliasi.

 

2.13 Emosi Kolektif dalam Proses Persatuan Sosial

Emosi memainkan peran penting dalam mobilisasi sosial. Banyak penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa rasa bangga, haru, dan keterlibatan emosional dapat memperkuat identitas kelompok. Smith dan Porter (2010) menjelaskan bahwa olahraga bekerja melalui ritual emosional yang membangunkan rasa kebersamaan. Dalam Invictus, adegan ketika warga berbagai ras menyanyikan lagu kebangsaan bersama menunjukkan bagaimana emosi kolektif menjadi faktor perekat sosial.

Namun, emosi yang terbangun dalam momentum pertandingan tidak boleh dianggap sebagai rekonsiliasi final. Emosi bersifat sementara; ia perlu ditopang dengan kebijakan jangka panjang agar tidak menguap. Karena itu, pelajaran penting dari film ini adalah bahwa emosi kolektif dapat menjadi pintu masuk, tetapi tidak cukup sebagai fondasi tunggal. Rekonsiliasi sejati tetap membutuhkan keadilan sosial, distribusi sumber daya, dan reformasi institusi (Hamber, 2009).

2.14 Dimensi Pendidikan dalam Film Invictus

Film memiliki nilai edukatif yang tinggi. Invictus dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa, calon pemimpin, dan publik luas untuk memahami pentingnya kepemimpinan etis. Melalui narasi yang mudah diikuti, film ini memperkenalkan konsep kepemimpinan transformasional, moral, dan pelayanan. Pengalaman visual membuat konsep abstrak menjadi konkret. Selain itu, film juga mengajak penonton berpikir kritis mengenai hubungan antara kekuasaan, etika, dan simbol.

Dalam pendidikan kepemimpinan, penggunaan film seperti Invictus dapat menjadi metode reflektif. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori secara kognitif, tetapi juga merenungkan implikasi etisnya. Dengan diskusi terarah, film menjadi bahan pembelajaran yang hidup. Ini sejalan dengan gagasan bahwa pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan karakter dan kesadaran kritis.

2.15 Kritik terhadap Representasi Film

Meskipun memberikan inspirasi, Invictus tidak luput dari kritik. Beberapa pengamat menyatakan bahwa film terlalu memusatkan perhatian pada figur Mandela sehingga mengabaikan peran gerakan rakyat, organisasi masyarakat sipil, dan aktivis keadilan sosial. Selain itu, isu kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan, dan kekerasan ekonomi tidak dibahas secara mendalam. Padahal, isu-isu tersebut merupakan inti persoalan pasca-apartheid (Borer, 2004).

Kritik ini bukan berarti film tidak layak diapresiasi, melainkan mengingatkan kita bahwa setiap representasi memiliki batasan. Narasi yang disusun sutradara selalu merupakan pilihan. Penonton perlu menyadari bahwa ada banyak cerita lain yang tidak tertampung dalam film. Dengan kesadaran ini, penonton tidak terjebak pada romantisasi, melainkan tetap melihat kenyataan secara utuh.

 

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makalah ini membaca Invictus sebagai teks budaya yang menggambarkan relasi antara kepemimpinan, rekonsiliasi, dan persatuan bangsa melalui olahraga. Film tidak hanya menarasikan kemenangan Springboks, tetapi menampilkan proyek persatuan nasional pasca-apartheid. Mandela direpresentasikan sebagai pemimpin bermoral yang memadukan keberanian politik, kepekaan terhadap simbol, dan orientasi pelayanan publik. Keputusan mempertahankan Springboks sekaligus mengubah maknanya menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat bekerja secara efektif melalui strategi simbolik, bukan sekadar melalui instrumen kekuasaan formal.

Secara konseptual, film menegaskan bahwa kepemimpinan rekonsiliatif merupakan perpaduan antara visi jangka panjang, keteladanan etis, serta kemampuan membangun dialog sosial. Mandela tampil sebagai figur kepemimpinan transformasional, pelayan publik, dan pemimpin moral yang menggunakan olahraga sebagai medium perjumpaan emosional untuk menumbuhkan rasa kebersamaan (Bass & Riggio, 2006; Greenleaf, 1977; Ciulla, 2004). Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa simbol, ritual, dan emosi kolektif memiliki peran penting dalam pembentukan identitas nasional (Smith & Porter, 2010; Anderson, 2006).

Meski demikian, film tetap menyederhanakan kompleksitas rekonsiliasi. Dimensi struktural seperti ketidakadilan ekonomi, ketimpangan pendidikan, dan kemiskinan kurang terangkat, padahal literatur rekonsiliasi menekankan pentingnya keadilan sosial bagi perdamaian jangka panjang (Lederach, 1997; Hamber, 2009). Dengan demikian, Invictus memberi inspirasi, tetapi belum cukup menjelaskan keseluruhan realitas pasca-apartheid.

Dari perspektif media, film ini menunjukkan bagaimana narasi dapat membentuk cara publik memahami kepemimpinan dan sejarah. Karena itu, Invictus perlu dibaca secara kritis: ia berguna sebagai sarana refleksi, tetapi bukan sumber tunggal dalam memahami transformasi politik Afrika Selatan.

3.2 Implikasi Teoretis

Secara teoretis, kajian ini memberi tiga penegasan utama. Pertama, kepemimpinan transformasional bekerja tidak hanya dalam organisasi, tetapi juga pada level bangsa yang sedang bertransisi; perubahan cara pandang publik dapat dicapai melalui simbol dan narasi, bukan hanya kebijakan administratif. Kedua, studi ini meneguhkan relevansi servant leadership dalam ranah politik, karena pelayanan publik menjadi basis etika yang memberi legitimasi pada kepemimpinan. Ketiga, integrasi teori rekonsiliasi dan teori representasi media menunjukkan bahwa rekonsiliasi berlangsung sekaligus di ruang politik nyata dan ruang simbolik budaya. Dengan demikian, analisis kepemimpinan dan rekonsiliasi perlu melibatkan kajian media agar lebih komprehensif.

3.3 Implikasi Praktis

Dari sisi praktik, temuan ini menghadirkan beberapa pelajaran. Pertama, Invictus dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kepemimpinan yang menekankan refleksi etis dan keberanian mengambil keputusan strategis. Kedua, bagi pembuat kebijakan, film ini menegaskan pentingnya mengelola simbol publik secara inklusif karena simbol dapat mempersatukan sekaligus memecah belah. Ketiga, bagi masyarakat, film ini mengingatkan bahwa persatuan menuntut kemampuan mengingat sejarah sekaligus berani memaafkan tanpa mengabaikan tuntutan keadilan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, B. (2006). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism (Rev. ed.). Verso.

Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational leadership (2nd ed.). Routledge.

Bloomfield, D. (2006). Reconciliation: An introduction. In D. Bloomfield, T. Barnes, & L. Huyse (Eds.), Reconciliation after violent conflict (pp. 10–18). International IDEA.

Borer, T. A. (2004). Reconciling South Africa or South Africans? Political psychology, reconciliation, and transitional justice. Journal of Southern African Studies, 30(3), 605–622.

Bryson, J. M., Crosby, B. C., & Bloomberg, L. (2014). Public value governance: Moving beyond traditional public administration. Public Administration Review, 74(4), 445–456.

Ciulla, J. B. (2004). Ethics, the heart of leadership (2nd ed.). Praeger.

Coakley, J. (2015). Sports in society: Issues and controversies (11th ed.). McGraw-Hill.

Giliomee, H. (2010). The last Afrikaner leaders: A supreme test of power. South African Historical Journal, 62(1), 1–25.

Greenleaf, R. K. (1977). Servant leadership: A journey into the nature of legitimate power and greatness. Paulist Press.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. SAGE.

Hamber, B. (2009). Transforming societies after political violence: Truth, reconciliation, and mental health. Springer.

Heifetz, R., Grashow, A., & Linsky, M. (2009). The practice of adaptive leadership. Harvard Business Press.

Jarvie, G. (2013). Sport, culture and society: An introduction. Routledge.

Kaufman, E. (2012). National identity and sports. Nationalities Papers, 40(4), 601–616.

Kriesberg, L. (2007). Long peace or long war: A conflict resolution perspective. Negotiation Journal, 23(2), 97–116.

Lederach, J. P. (1997). Building peace: Sustainable reconciliation in divided societies. United States Institute of Peace Press.

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE.

Maclean, M. (2014). Sport, the media and national identity. Sport in Society, 17(7), 861–867.

Monaco, J. (2009). How to read a film: Movies, media, and beyond (4th ed.). Oxford University Press.

Morris, J. (2016). Leadership, ethics, and organizational change. Journal of Business Ethics, 138(4), 755–765.

Northouse, P. G. (2021). Leadership: Theory and practice (9th ed.). SAGE.

Schreier, M. (2012). Qualitative content analysis in practice. SAGE.

Shamir, B., Zakay, E., Breinin, E., & Popper, M. (1998). Correlates of charismatic leader behavior. Leadership Quarterly, 9(2), 289–309.

Smith, A., & Porter, D. (2010). Sport and national identity in the post-apartheid era. Journal of Southern African Studies, 36(1), 1–17.

Van Zyl, L. E., & Stander, M. W. (2013). Transformational leadership and well-being. Journal of Psychology in Africa, 23(3), 451–456.

Wilson, R. (2001). The politics of truth and reconciliation in South Africa. Cambridge University Press.

 

Posting Komentar

0 Komentar